pesawat terbang diudara

Entah lah apa yang terjadi,

banyak dari kita yang hanya menginginkan kebahagiaan, tertawa ngakak sana-sini, atau berlarian melepas Dahaga…

seperti kata Freud, tujuan tertinggi manusia adalah tercapainya Kebahagiaan…

Dari tujuan ini, kita kemudian banyak menghindari rasa derita, rasa sakit dan kekecewaan, bahkan diantaranya berusaha lari dan menutupi Diri.

Penderitaan memang sepantasnya membuat kita banyak-banyak merenung, banyak-banyak berpikir, dan banyak-banyak merasa. hal ini perlu, karena tiada sebenarnya Derita kecuali karena cara kita bersikap.

Suatu hari, ada yang mundur tersakit di tengah-tengah penderitaannya. menyatakan sikap bahwa semua jalan perubahan ini untuk menghadapi penderitaan adalah tiada nilainya. semuanya hanya membawanya pada kenyataan hidup terpahit, bahwa dia tak hanya kelelahan menguras energi kehidupannya.

hmmm… tampaknya dan rasanya memang demikian…

tetapi, jika kau melihat lebih dalam, ke dalam dirimu sendiri, tidak kah kau melihat bahwa Kau masih tetap Bertahan dan Berdiri Tegak menghadapi penderitaanmu, apakah itu artinya kau tak mampu melaluinya?…

JIka kau lelah, dan kau bersiap untuk putus Asa,

Tengoklah ke dalam dirimu, Bagaimana kau telah bertahan dan tetap berdiri.

Kelelahan dan kemarahan adalah kewajaran yang tumbuh dan muncul dalam guncangan-guncangan kehidupan.

Kau tengok pesawat terbang,

Pilotnya tahu bahwa ia akan berhadapan dengan angin kencang, mungkin badai, dan awan-awan gelap,

Tetapi apakah Pilotnya memutuskan untuk mundur dan berhenti dari penerbangannya?

Tengoklah kapal-kapal di lautan, ia tahu bahwa ia akan berhadapan dengan ombak-ombak tinggi dan arus lautan yang deras,

Tetapi apakah kaptennya memutuskan untuk mundur dan berhenti melanjutkan perjalanannya?

Jika kau tanyakan itu kepada Pilot dan Nahkoda, mereka akan dengan santai menjawab, bahwa Demikianlah perjalanan yang akan mengantarkan mereka untuk mencapai tujuan, satu-satunya cara mencapai tujuan, bukan lah menghindari mereka, tetapi menghadapi mereka. ketika pada akhirnya semua terasa berat, mereka akan mengingat kembali apa tujuan mereka. Saat tujuan semakin jelas, mereka akan menggunakan berbagai cara yang tepat untuk menghadapi kesulitan-kesulitan di depan.

Jika pun pilihannya Mundur, mereka tak benar-benar mundur, mereka tak mengubah Tujuan, mereka hanya mengundurkan waktu, untuk mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinannya.

Demikianlah hidup, keputusasaan, kemarahan, kelelahan, kemarahan, penolakan, adalah kewajaran yang sepantasnya ada dalam kehidupan. mereka ada senyuman Tuhan yang sama.

Maka, tengoklah ke dalam, tengok dan melihatlah seberapa kuat dan mampunya kau bertahan. karena Tujuanmu sudah dekat, satu kemurnian Jiwa yang semakin terasah melalui penderitaan.

Pesawat tak dapat langsung terbang dengan ketinggian puluhan ribu kaki di atas permukaan laut, ia melalui tahapan-tahapan yang sama sulitnya. senada dengan itu, kemurnian jiwa akan melalui tahapan-tahapan antara kemudahan-kesulitan, antara kebahagiaan-kesedihan, antara penerimaan-penolakan.

Selamat belajar terbang…

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *