Si Anak Gadget…

Dia yang mengenal dirinya Sendiri, Dia mengenal Tuhannya.

Dia yang mendalami dirinya, Dia memahami luasnya Semesta

Dia yang mencintai dirinya, Dia memiliki segalanya

Dia yang memiliki segalanya, Dia memahami ketulusan…


 

Cerita di pagi hari. Tentang pengetahuan yang semestinya diiringi pemahaman tentang diri…

 

Suatu hari, teman saya, seorang ayah. Dia berkonsultasi tentang anaknya.

Dari wajahnya, saya melihat ia dipenuhi kekhawatiran dan kecemasan mendalam.

Katanya, ia sudah memeriksakan anaknya di bagian tumbuh kembang anak di satu rumah sakit, hasilnya, anaknya didiagnosa Autis.

Saya memahami berbagai gelombang perasaan yang kemudian muncul padanya.

Anak yang ia perjuangkan selama ini untuk hadir di dunia, anak yang ia tunggu bersama istri setelah melalui berbagai pengobatan,

tiba-tiba didiagnosa Autis.

Dengan bekal pemahaman minimal tentang gangguan anak (karena dasar keilmuan saya mendalami psikologi remaja dan adiksi), saya meminta ia membawa anaknya ke klinik kecil-kecilan di rumah.

Singkat cerita, datanglah teman saya membawa istri dan anaknya yang sangat lucu.

Saya menyapa hangat anaknya dengan penuh kelembutan (berhubung saya sangat suka anak-anak).

Saya memanggil namanya dan tersenyum sembari memandang mata lembutnya.

Saya terkejut, Ia tidak bisa memandang mata saya apalagi melirik ke arah saya meskipun saya menyapa dan memanggil namanya.

Ayahnya lantas menegurnya “om Ardi lho itu nak”

Saya katakan tak masalah. Lalu saya tetap menyapa dengan memanggil namanya beberapa kali. Ia tetap cuek, seolah-olah tidak ada manusia lain di sekitarnya.

Ia hanya fokus pada Gadget yang tergenggam erat di tangan ibunya.

Pelan-pelan saya mulai menyadari sesuatu. Gangguan ini tampaknya berhubungan dengan gadget.

Seperti biasa, saya mulai bertanya tentang keseharian anak dan keluhan yang dirasakan orangtua. Sementara itu, saya tetap melakukan observasi kepada anak saat ia bermain.

Berdasarkan cerita ibu, saya paham kalau ternyata anaknya mengalami keterlambatan perkembangan antara lain :

keterlambatan berjalan : Ia baru berjalan diusia 1 tahun 5 bulan.

keterlambatan berbicara. Ia belum mampu mengatakan sesuatu kecuali “aaakkkk” “iiiikkkkkk” dan beberapa ekspresi tangisan serta marah.

kesulitan merespon secara sosial terutama ketika disapa orang lain.

Menurut orangtua, interaksi anak dengan orang lain sangat terbatas, bahkan kepada orangtua pun juga terbatas. Ibu dan ayah khawatir dan terganggu ketika menyadari anaknya tidak mampu menjaga kontak mata dengan orang lain.

Saya bertanya apakah anak mengalami kesulitan fokus pada sesuatu, kata orangtua, tidak. Terhadap benda-benda, ia bisa memusatkan perhatian seolah-olah keingintahuannya tinggi. Terutama jika menonton video di gadget, ia akan sangat senang dan betah berlama-lama. Orangtua mengkhawatirkan perilaku anak yang hiperaktif ketika melakukan sesuatu, mereka merasa anaknya sibuk dengan dunianya sendiri sehingga mengesampingkan kehadiran orang lain, termasuk jika orang lain melarangnya melakukan sesuatu.

Melalui pengamatan saya, tampak bahwa apa yang dilakukan oleh anak masih tergolong wajar. Jika gangguannya adalah hiperaktif, keaktifannya masih dalam koridor yang wajar, bukan keaktifan yang tampaknya menjadi masalah untuk saat ini.

Saya kemudian melihat kesibukannya dengan dunianya sendiri. Saya merasa kesibukan itu dalam tahap wajar untuk seorang anak berusia 1 tahun 8 bulan.

Bila ia mengalami gangguan pemusatan perhatian, saya juga merasa masih dalam tahapan yang wajar, karena dalam beberapa hal, ia bisa menjaga dan memusatkan perhatian pada sesuatu yang dilihatnya.

Nah ketika menyadari hal itu, saya mulai bertanya-tanya. Jika ia bisa memusatkan perhatian pada benda mati dan gadget yang dimiliki ibunya, mengapa interaksi sosial pada manusia menjadi terbatas?

Saya memohon izin kepada orangtua untuk bertanya pada sahabat saya di luar kota tentang gangguan anak ini. Kebetulan sahabat saya ahli di bidang gangguan tumbuh kembang anak.

Dari berbagai keluhan yang saya sampaikan, teman saya dengan santai mengatakan, “Put, anak 1 tahun  8 bulan belum bisa didiagnosa Autis, jika pun ada gejalanya, masih harus terus menerus diperhatikan dan asesmen lebih mendalam. Untuk saat ini, yang bisa dilakukan adalah menangani dengan tepat agar gangguan anak tidak semakin parah.”

Lantas apa yang terjadi dengan anak ini. Sahabat saya menjawab dengan sederhana. “Mungkin saat ini anaknya sedang mengalami keterlambatan perkembangan, Put. Banyak macam penyebabnya, mungkin gangguan organik (genetik atau trauma otak), stimulasi yang kurang dari pengasuh, atau kekurangan gizi bisa juga put. Atau malah akibat paparan gadget yang orangtua nya berikan. Coba aja konseling tentang bagaimana pola ibu memberikan gadget pada anaknya!”

Akhirnya tanda tanya itu terjawab.

Saya memutuskan untuk mendalami pola asuh orangtua kepada anak.


Latar belakang keluarga :

Orangtua berasal dari keluarga yang mampu, bahkan berlebihan secara materi. Ibu tinggal bersama anak di sebuah ibukota kabupaten sedangkan ayah tinggal di ibu kota propinsi. Dalam mengasuh anak, ibu sering membaca berbagai tips tentang pengasuhan dan mengikuti berbagai kegiatan parenting.

Namun, karena ibu juga bekerja sebagai guru, ia harus meninggalkan anaknya di rumah ketika sedang mengajar. Ia meletakkan anaknya di kamar bersama Gadget yang tak pernah mati, selalu memutarkan video online untuk anaknya agar sang anak tenang, diam dan mau ditinggal sendiri di kamar.

Demikian juga ketika ibunya pulang. Setibanya di rumah, ibu menggendong anak dan memberikan makanan. Ketika ibu beristirahat, ia membiarkan anaknya kembali menonton video di Gadget. Ibu melakukan hal itu sejak usia anak 6 bulan hingga usia anak saat ini yaitu 1 tahun 8 bulan.

Saya bertanya, “Apakah Ibu tidak pernah menstimulasi anak untuk berbicara ketika di rumah?”

Dijawabnya, “Tidak pernah mas” Ibu mengira jika anaknya wajar belum dapat bicara sehingga ia merasa tidak perlu menstimulasinya.

Saya bertanya lagi, bagaimana dengan berjalan, apakah dia merangkak? jawabannya semakin membuat saya tercengang.

“Dia tidak merangkak, ia berjalan di usia 1 tahun 5 bulan.”

“Tidak pernah diajak merangkak atau diajak jalan sebelumnya. Distimulasi?”

Saya tidak berani mas. Kalau memang belum waktunya, biarkan saja. Saya sangat sayang pada anak saya mas. Dia, anak yang saya tunggu-tunggu. Saya tidak mau memaksakan sesuatu pada dia. Saya takut paksaan saya nantinya membuat dia sakit, terluka atau menderita. Saya hanya ingin dia bahagia.”

“Menstimulasi bu. Bukan menyiksa maksud saya.”

“Iya mas. Buat saya, kalau belum mau jalan ya sudah, belum mau merangkak ya sudah, belum mau bicara ya sudah. Dia senang menonton video di Handphone saja, jadi saya lakukan yang buat dia senang.

Dialog ini berlanjut.

“Lantas bagaimana dengan  interaksi bersama tetangga, atau sekadar mengajaknya ke sekolah? Bertemu dengan orang lain?”

Tidak mas, jangan. Mas tahu saya tinggal dikampung, tidak seperti di kota. Saya ikut kegiatan parenting beberapa kali mas, katanya pergaulan itu harus berhati-hati, kuman, virus, bakteri. Kita kan tidak tahu bagaimana anaknya orang mas. Apalagi kalau nanti anak saya dimarahi, dibully sama anak-anak atau orangtua lain.”

“Kalau begitu, anak ibu hanya diam di rumah?”

“Iya, makanya saya siapkan paket data on terus, supaya dia di rumah saja. Dia tenang mas, tidak marah, tidak menangis, tidak mengamuk kalau sudah pegang Handphone.”

Oke, gambaran permasalahannya semakin jelas. Anak tampak terganggu interaksi sosialnya karena tidak pernah distimulasi dalam interaksi sosialnya. Anak mengalami keterlambatan bicara dan berjalan juga karena hal yang sama, tidak adanya stimulasi.

Saya bertanya lagi pada ibunya. “Apakah ibu tahu bahaya gadget?”

“Tahu mas, bahaya sekali. Banyak artikel yang saya baca, kalau gadget itu bahaya bagi anak kecil, menghambat tumbuh kembang anak.”

“Lalu mengapa Ibu melakukannya?”

Ekspresi wajahnya berubah tegang. Gagap dalam bicara dan terdiam, air matanya jatuh begitu saja.

Suaminya kemudian mengambil alih. “Iya Di, masalahnya, istriku ini ketakutan sekali. Kami biasa cekcok karena pengasuhan anak. Ia tahu banyak tentang parenting, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan”

“Saya bukannya tidak bisa melakukan apa-apa” istri marah kepada suami. “Saya hanya takut terjadi apa-apa pada anakku. Saya sayang sama dia, saya tidak mau terjadi sesuatu dengan dia di luar sana karena bergaul sama orang lain. Kamu enak kerja jauh, kamu tidak pernah tahu rasanya jaga anak. Saya menjaga anak agar dia tidak sakit, tidak celaka. Kamu tahu bullying, bahaya kalau anak kita dari kecil sudah mengalami itu. Saya tidak mau anakku digendong-gendong kayak anak tetangga itu, kalau mereka penyakitan, kotor, belum lagi kata-katanya kasar. Saya tidak mau anakku dimarahi atau dengar kata-kata orang.”

“Iya, tapi sekarang anak kita jadi kecanduan gadget, sama saja, terganggu juga anak kita sekarang….”

Dan hening sejenak. Saya melihat cinta kasih di sana, tetapi cinta kasih yang penuh kecemasan. Ya anak ini ibarat anak emas. Anak yang ditunggu selama 4 tahun pernikahan mereka. Berkali-kali istri hamil, berkali-kali juga mengalami keguguran, hingga akhirnya ia mendapatkan anak ini, dan kehidupannya dipenuhi antara kebahagiaan sekaligus kecemasan.

Saya mulai memetakan masalahnya. Jika pun anaknya mendapatkan terapi untuk tumbuh kembangnya, perkembangan anak kemungkinan besar akan tetap terhambat, mengapa?

Masalah bukan pada anak, tetapi pada ibunya. Oleh karena itu, saya memutuskan melakukan konseling mendalam kepada ibunya.

Dari proses itu, dengan segala emosi dan tumpah ruah air mata, saya menyadari bahwa dalam pengasuhan ini, sang ibu membawa kecemasan akibat luka batin yang luar biasa. Luka yang tak pernah ia kenali, luka yang tak pernah ia pahami dan luka yang tak pernah ia sadari. 

Ia mengalami kecemasan sejak kecil akibat perlakuan keluarganya. Ketika dewasa ia mengalami kecemasan tentang berumah tangga dan memiliki anak. Keguguran adalah rangkaian pemicu kecemasan kronis dalam hidupnya. Setelah ia dapat mempertahankan kehamilan, ia bertindak menjaga kehamilan bukan atas dasar kasih sayang semata, tetapi rasa cemas yang tak ia sadari. Kecemasannya seputar “kehilangan”. Rasa kehilangan akibat luka di Masa Kecil yang tidak disadari hingga saat ini.

Kecemasan itu berwujud over protektif dan over thinking terhadap sesuatu hal. Semakin ia tahu, semakin ia cemas, semakin ia menambah ilmu parenting, semakin ia cemas menerapkan parenting kepada anaknya, semakin ia bersemangat semakin ia merasa ketakutan.

Setelah melahirkan, ia sempat mengalami keresahan terhadap anaknya. Depresi dan merasa tidak pantas menjadi ibu. Ia bahkan tidak bisa menyusui. ASI yang keluar sangat sedikit sehingga tidak mencukupi kebutuhan anak. Anak pun selalu menolak ketika dilatih untuk mengisap puting ibunya. Oleh karena itu, ia membiarkan saja anaknya minum susu formula.

Pada masa-masa itu, posisinya menjadi sangat membingungkan. Ia pernah begitu menggebu-gebu ingin memiliki anak, tetapi setelah memilikinya, ia justru merasa sangat terganggu dan tidak pantas. 

Mengapa hal ini terjadi? Sekali lagi, karena kecemasannya akan kehilangan sesuatu. Ia takut gagal melakukan apa yang sudah ia ketahui, ia takut gagal membesarkan anaknya. Ia takut terjadi sesuatu kepada Anaknya. Ia takut akibat dari kegagalan itu membuatnya kehilangan Anak yang merupakan sumber cintanya. Dan saat itu, kehilangannya berwujud pada kecemasan menjadi orangtua. Maka ketika orang lain bahagia memiliki Anak, ia justru berkutat dengan kecemasannya menjadi Ibu.

Usahanya untuk lepas dari perasaan itu berhasil. Pelan-pelan Ia mulai bisa menyayangi anaknya. Perasaan kecemasan menjadi Ibu berubah menjadi Perasaan Menjadi yang Harus over protektif terhadap anak demi mengkompensasi Kecemasannya. Itulah mengapa ketika anaknya belum bisa bicara, bukannya menstimulasi, ia membiarkannya. Sederhana, ia takut terjadi sesuatu kepada anaknya, ia takut anaknya tidak nyaman, ia takut anaknya tersakiti, ia takut anaknya merasa dipaksa. Padahal itu semua adalah wujud kecemasannya sendiri jika ia menjadi orangtua yang gagal dan tidak mampu membuat anak Bahagia.

Hal itu juga menjadi dasar mengapa ia tidak menstimulasi anaknya untuk berjalan. Ia khawatir jika anaknya terjatuh dan kesakitan. Jika anaknya terjatuh dan kesakitan, siapa yang akan paling merasa tidak nyaman? Pastilah ibunya. Ibu takut anaknya tersakiti, Padahal ia bukan takut anaknya tersakiti, ia yang Takut jika ia yang tersakiti karena anaknya sakit. Ia takut menjadi Gagal ketika melihat anaknya tidak Bahagia. Maka, ia membiarkan anak tetap berada pada kondisi Bahagia, agar tetap merasa aman sebagai Ibu yang Berhasil Membuat Anak Bahagia.

Dia pun menjaga anaknya secara berlebihan dari berbagai interaksi sosial. Interaksi Sosial yang dianggapnya membahayakan tumbuh kembang anak karena over thinking terhadap sesuatu yang ia ketahui. Sekali lagi, daripada membahayakan Anak yang berujung pada perasaan Gagalnya sebagai Ibu, dia memilih membiarkan anak dalam Kondisi Bahagia meski itu berarti menjauhkannya dari interaksi sosial sehingga Ibu tetap merasa Aman telah menjadi Ibu yang Mampu Membahagiakan Anak.

Ibu sangat takut menghadapi kegagalannya sendiri. Ibu sangat takut menghadapi kesakitannya sendiri. Kegagalan dan kesakitan yang muncul dari pengalaman interaksi anak. Jadi dengan alasan melindungi anaknya, ia menjadi over protektif. Padahal, IA SESUNGGUHNYA TIDAK SEDANG MELINDUNGI ANAKNYA, IA SEDANG MELINDUNGI DIRINYA SENDIRI DARI KECEMASAN JIWANYA AKIBAT LUKA/TRAUMA YANG ADA SEJAK MASA LALUNYA.

Lihat lah, Ibu boleh saja punya ilmu banyak tentang Pengasuhan, sama halnya seperti saya yang banyak belajar tentang ilmu perilaku mansia. Tetapi saya sadar dan sangat paham, hanya tahu saja tentang Ilmu tanpa tahu dan memahami apa yang terjadi pada diri sendiri, dapat menjadi bumerang. Karena menurut hemat saya, pengetahuan terdalam adalah pengetahuan tentang Diri. jadi mari perbanyak merefleksikan diri, merefleksikan hidup, perbanyak berproses dengan Diri, terutama berdamai dengan masa lalu…

“Ketika kau tidak bisa berdamai dengan masa lalumu, jalur hidumu akan terus diikuti dengan kegagalan dan kelukaan di masa lalu itu. Terutama, ketika kau tak pernah mengenali dirimu, memahami dan paling penting, menyadarinya.”

Jadi, tampak seolah-olah bahwa ibu tidak mencintai anaknya dengan melakukan semua itu. Tetapi bagi saya, ibu bukan tidak mencintai anaknya, IBU TIDAK MENCINTA DIRINYA SENDIRI. 

 

 “DAN SIAPA YANG TIDAK MENCINTAI DIRINYA SENDIRI, TIDAK MUNGKIN DAPAT MEMBERIKAN CINTA KEPADA ORANG LAIN. IBARAT MEMBERI SEPOTONG KUE. JIKA KAU SENDIRI TAK MEMILIKI KUE, BAGAIMANA KAU BISA MEMBERIKAN SEPOTONG KUE KEPADA ORANG LAIN. JIKA KAU TAK MEMILIKI CINTA KEPADA DIRIMU SENDIRI BAGAIMANA KAU BISA MEMBERIKAN CINTA KEPADA ORANG LAIN.

 

Ketakutan yang di alami Ibu adalah ekspresi jiwa yang kehausan, kesakitan. jiwa yang telah lama ditinggalkan tanpa cinta. jiwa yang tak pernah dipeluk oleh diri sendiri.

Sang ibu berusaha memeluk erat anaknya agar tak terjatuh. Tetapi ia tidak sadar bahwa “Ia tidak tahu caranya memeluk” Ia memaksa anaknya berada dalam pelukannya TERUS-MENERUS demi menghangatkan jiwanya SENDIRI.

 

Pesan sederhana dari tulisan ini,

Janganlah mengambil peran yang besar terhadap perkembangan anak-anak kita, mereka sudah memiliki jalannya masing-masing. Kita berperan sepantasnya dan dalam koridor mendampinginya

 

“Perbanyaklah tahu tentang ilmu Parenting. Ilmu tentang mengasuh Anak. TETAPI TERAPKAN TERLEBIH DAHULU pada Dirimu Sendiri YAITU MENGASUH SI ANAK KECIL DI DALAM DIRI – SI INNER CHILD

 

Selamat memeluk anak kecil dalam diri. ia membutuhkan pelukan hangat  anda, pelukan penuh cinta kasih.

Selamat mengetahui tentang diri. selamat mengetahui tentang Tuhanmu.

With love…

Putu kecil yang dulu selalu sepi dan sendiri.

(I Putu Ardika Yana)…