Tengah malam saya tiba-tiba terbangun sambil terbatuk-batuk. ada aliran informasi yang tiba-tiba memaksa saya terbangun. lalu saya meminta teman saya untuk menyodorkan air minum yang terletak di sampingnya.
Perlahan, saya minum dan mencerna aliran informasi di kepala saya yang teracak membingungkan. satu hal yang saya tahu, nama informasi itu adalah Jeratan Penjara Cinta.

Ya, dalam beberapa waktu terakhir, saya mendengarkan kisah orang-orang yang terjerat dalam penjara cinta. perkara mencinta dan dicintai, perkara memiliki dan melepaskan, perkara mencari pengakuan dan pembuktian, perkara tersakit dan menyakiti. katanya demikian lah cinta, deritanya tiada akhir.

————————————————————

Di salah satu orang, rasa cintanya demikian besar, kerinduan untuk memiliki dan selalu membersamainya begitu kuat. hingga dia bahkan berkali-kali berteriak “saya mencintai dia kak, saya mencintai, kenapa begini, saya tidak bisa melepaskan dia”
Dia meyakini sesuatu, tiada yang paling menyakitkan selain cinta yang tak berbalas.

Ya, dia sakit karena cintanya yang tak berbalas, sedikit pun tak berbalas.

Kerap dia menyatakan, sudah demikian besar cintanya namun kenapa tak mampu menembus perasaan orang itu. kerap dia bertanya, apalagi yang bisa dia berikan agar orang itu dapat membalas cintanya. kerap juga dia berkata, sudah semua hal dia lakukan untuk selalu ada bersama dia, tetapi tak kunjung hadir perasaan orang itu membalas cintanya.

Hingga akhirnya, dari semua pertanyaan dan pernyataan itu, dia semakin dalam menggali lukanya untuk terus menerus merasa sakit yang tak terperih. dia mulai terikat oleh Perasaan yang katanya bernama CInta. Dia terjebak dalam Penjara Cinta yang membuat lukanya kian menganga dan merana. 24 jam habis waktunya melihat dan merasakan luka yang tak terperih, 7 hari waktunya habis untuk merindu, 1 bulan waktunya habis untuk berharap pembalasan yang sama dari orang yang dicintainya. dan kini sudah setahun, dia tak sadar bahwa segala kehidupnya telah dipangkas seperti bonsai, terbatas tanpa berkembang, oleh rasa Mencintai itu. dia akhirnya lupa, menjalani kehidupan, lupa mengembangkan dirinya, lupa menikmati kehidupan, lupa mensyukuri kehidupan. Lupa kalau dia Jiwa yang pantas bahagia. ya, penyakit manusia yang mencintai tanpa berbalas adalah “LUPA” kalau dia pantas bahagia.

 

Di salah satu orang berikutnya, rasa tak mencintainya begitu besar. perkara kali ini adalah dicintai demikian besar, kuat dan dalam oleh orang lain. dia tersakiti, terluka dan tak berdaya karena dicintai oleh orang lain. Jika seseorang sebelumnya sakit karena mencinta, dia sakit karena dicinta.

Ya, dia sakit karena dicinta, karena dia tak ingin dicinta seperti demikian

Kerap dia menyatakan pikirannya yang kalut, keruwetan dalam pikirnya, kesakitan dalam deritanya. mengapa demikian sakit dicintai. dia mengeluhkan bagaimana dirinya di kurung dalam sangkar ayam, tak boleh pergi, tak boleh melakukan apapun yang diinginkan. kerap dia menyatakan, sudah demikian tersakitinya dirinya sedangkan orang lain itu tak jua berhenti mencintanya. kerap dia menanyakan, apakah orang itu tak punya perasaan sampai demikian mencinta hingga menyakitinya. kerap pula dia mengeluh dan mengeluh mengapa orang itu tak henti-hentinya menyakitinya “katanya cinta, tetapi kenapa begini, kenapa selalu minta dimengerti perasaan, kapan mengerti perasaanku”

 

Hingga akhirnya dari semua pertanyaan dan pernyataan itu, dia sama seperti teman satunya, menggali luka jiwa demikian dalam untuk terus menerus tersakit dan tak berdaya dengan alasan “karena perlakuan orang lain”. bahkan yang terburuk, tak cuma luka jiwa yang telah ia gali, ia telah menggali luka fisik sedemikian besar sebagai tanda, alam pun berontak atas penderitaanya. Dia terjebak dalam perasaan yang namanya Cinta. dia terjebak dalam penjara cinta yang membuatnya tak berdaya untuk mengambil peran dalam hidupnya. Lihat bagaimana “bodoh”nya dia mau terjebak dalam lingkaran penderitaan dengan terus-menerus menyalahkan orang lain yang menyakitinya karena mencinta.

 

Bukankah mencinta adalah Hak setiap Orang? yaa, tak ada yang salah sebenarnya dari kelakukan orang yang mencinta itu, orang itu berhak untuk mencinta, dan teman saya ini pun Berhak untuk tak mencinta. lalu masalahnya dimana jika dia mau menghargai. Demikianlah orang yang hidup dalam jerat penjara cinta. dia Lupa kalau dia tidak punya kewajiban apa-apa untuk membalas cinta itu, dia lupa kalau dia tak punya kewajiban apa-apa untuk turut serta dalam derita itu. Dia lupa, kalau yang membuatnya menderita bukan orang yang mencinta itu, melainkan DIRINYA sendiri. ya dirinya sendiri yang menyakiti dirinya, bukan orang itu, dia yang mengizinkan dirinya Menderita, dia membuat pertalian yang erat dalam pernyataan “saya capek dibuat begini terus kak, kapan dia mau berubah, saya mau dia berubah” pernyataan demikian adalah Jerat Penjara Cinta. jerat ketika kita mengharapkan orang lain yang merubah perasaannya, bukan kita yang merubah diri kita menghadapi penderitaan. dia Lupa, dia adalah pemimpin dirinya sendiri, daripada menunggu orang itu berhenti mencinta, mengapa bukan dia yang memutuskan untuk tak Berhak Menderita…

 

Di salah satu berikutnya lagi, tak terlihat paras derita atau kesakitan, tak terlihat luka dan kesedihan. yang terlihat sebaliknya, wajah tampak bahagia, merona merah, ekspresi tawa yang besar. itu lah bentuk Jerat Penjara Cinta berikutnya. dia tampak bahagia karena sedemikan banyak orang yang mencintai dia dan yang bisa dia cintai. seperti katalog yang barangnya selalu tersedia, dia serasa bahagia bisa memilih demikian banyak barang dalam katalognya. benar kah dia Mencinta? benar kah dia dicintai? atau apa yang dia lakukan adalah bentuk mencari Pengakuan dan mencari Pembuktian bahwa “saya hebat!”

 

Kerapkali dalam kasus ini, penampakan bahagia hanya di luar saja. Coba dia melirik sejenak ke dalam, tampak luka borok di sana. Ia belum sadar kalau ia terluka. Ada hari-hari ketika dia bersama secara fisik dengan orang yang katanya dicintai dan mencintai, tetapi ia tak merasa nyaman secara penuh di jiwa. Dekat secara fisik, namun tak nyaman secara jiwa. Ada rindu yang demikian besar untuk selalu bersama secara fisik, namun ada hampa yang luar biasa dalam jiwa.

 

Kerap timbul pertanyaan, apa yang saya cari dari ini semua, kenapa saya melakukannya namun saya tak merasa bahagia dan menjadi diri sendiri. Kerap muncul pernyataan betapa sepi dan sendirinya saya sendiri meski saya bersama orang-orang. Kerap muncul rasa kerinduan untuk diterima apa adanya, untuk menujukan diri bahwa saya lemah, kerap hadir dalam diri rasa takut, rasa ditolak, rasa lelah karena selalu tampak Kuat padahal tak demikian. pada titik tertentu, dia terjebak hanyak mengulang-ngulang berhubungan dengan orang, melompat sana sini, berelasi lebih dari satu. Kesana kemari mencari sesuatu.

 

Hingga pada pada akhirnya, di titik sendirinya, dia sebenarnya capek, dia lelah, karena di semua tempat yang dia cari itu, dia tak menemukan apa-apa. Dia terjebak dalam jeratan Penjara Cinta. Dia terkungkung seperti bonsai itu lagi. Setiap tumbuh, dipangkas, setiap berkembang, dimatikan. Jeratan Penjara Cinta seperti apa yang menjebaknya. Ya dia dia terjebak dalam usahanya mencari CINTA yang menerima Dia apa adanya. Dia terjebak untuk terus membuktikan diri dan menunjukan dirinya yang Kuat. Bayangkan. Dia terjebak UNTUK MENUNJUKAN DIRINYA, UNTUK MEMBUKTIKAN DIRINYA BAHWA IA KUAT DAN HEBAT. Untuk apa dia melakukan itu, karena dia takut kehilangan orang lain, takut tidak dicintai orang lain, takut tidak dianggap orang lain. Dia tidak pernah menjadi dirinya sendiri, dicintai dengan penuh penerimaan. Dia terjebak pada pemikiran bahwa dia hanya dicintai jika dia Hebat, jika dia Kuat. Maka ke sana kemari lah dia membuktikan dan mencari pembuktian.

 

Cinta apa yang menjebaknya? Penjara Cinta bahwa mencintai adalah Mesti Kuat dan HEBAT. Selamat terjebak dalam percintaan itu.

 

Dan kisah cinta berikutnya adalah ketakutan untuk mencinta. Kali ini jebakan jerat cinta justu membuatnya takut. Dia takut mencinta. Karena mencinta orang lain yang tak boleh dicintai.

 

Ya dia sakit karena mencintai dan tak boleh dicintai. Perkara sama tentang cinta. Dia terluka, tersakiti tak terperih.

 

Semakin dalam menggali luka, semakin dalam menggali derita. Terikat dalam hubungan rumit antara cinta. Dia “lupa” kalau mencinta itu bebas, perkara itu boleh atau tidak adalah normatif penjara manusia. Dia “lupa” cinta itu perasaan ketulusan saja, perasaan mengasihi saja, perasaan menerima dan memberi saja, lalu terjebak dalam perkara boleh atau tak boleh. Pun tidak boleh, apa yang beda dari Cinta itu. Sayangnya kelupaannya karena harapan yang tinggi untuk dibalas cintanya akhirnya menyakitinya. Selama dia mencinta demikian, selama itu kesakitan deritanya.

 

-—————————————————————

 

Mengapa jerat ini melingkupi kita.
Jawaban ini bukan jawaban mutlak, anda semua boleh punya jawaban. Tetapi bagi saya jawabannya sederhana

“Orang yang kekurangan cinta dari pengasuhnya, kesulitan mencintai dirinya sendiri, orang yang sulit mencintai dirinya sendiri akan sulit mencintai orang lain”
Apa yang terjadi dgn cerita di atas adalah bukti sederhana bahwa manusia-manusia kekurangan cinta akan hidup dalam derita. Mereka akn mencari pemenuhan kebutuhan akan cinta di luar dirinya. Mencari pemenuhan pembuktian di luar dirinya. Dan selama pencarian itu terus dilakukan di luar dirinya, maka dia akan terus berhadapan dalam ketidakpastian. Mengapa, karena dia mengharapkan orang lain memenuhi cintanya padahal orang lain yang diharapkan itu juga hidup dalam derita Jeratan Penjara Cinta.

 

Lalu ketika orang-orang mencari pemenuhan pada sesama yang terjerat, bagaimana dia mendapatkan Cinta yang Sejati.

 

Orang-orang demikian akan selamanya terjebak dalam Jeratan Penjara Cinta. Mereka membawa luka masa lalu dari pengasuh ketika mereka diabaikan sewaktu anak-anak. Mereka membawa luka masa lalu ketika mereka tidak diterima apa adanya dan harus hidup dengan syarat-syarat. Mereka membawa luka masa lalu ketika dikhianati, disakiti dan menjadi korban perselingkuhan keluarga.

 

Ketika luka-luka itu dibawa hingga dewasa, maka jeratan kekurangan cinta itu berbentuk macam-macam. Ada kemarahan, kesepian, kehilangan, ketakutan, penolakan dan tak berdaya, merasa ciut tak mampu menjadi apa-apa. Ketika kekurangan cinta berbentuk demikian, maka CINTA BERIKUTNYA KEPADA ORANG LAIN TAK PERNAH LAGI TULUS, TAK PERNAH LAGI MENJADI CINTA MELAINKAN MENJADI PENGHARAPAN UNTUK MEMENUHI LUKA JIWA MASA LALU.

 

Jadi apa yang bisa dilakukan untuk melepas jerat ini?

 

Sadari Luka Jiwamu, Terima bagimana itu terjadi, jika sudah bisa menerima, belajar Memaafkan Luka itu. Dan LEPASKAN LUKA ITU. Hidup tidak hanya tentang luka di masa lalu. Bagaimana melalukannya?
Jangan pernah mencarinya kepada orang lain di luar dirimu. Energi Cinta yang luar biasa adalah Cinta yang berasal dari orang yang kamu temui setiap pagi di hadapan Cermin. Ya Dirimu Sendiri.

 

Energi penyembuh dari jerat cinta yang luar biasa ini adalah Mencintai Dirimu sendiri dan Dicintai dirimu sendiri. Begitu kau berubah dapat melakukannya pada dirimu sendiri, maka kita akan membantu orang lain yang terjebak dalam jerat cinta. Ingat, kau berubah maka orang lain berubah.
Selamat menjalani jerat penjara cinta dan menerimanya.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *