CARA AMPUH MENGATASI GALAU

Belakangan ini kita tampaknya lebih akrab dengan kata galau daripada bahagia. Kata galau begitu popular di kalangan remaja dewasa, bahkan anak-anak. Sering kali galau diasosiasikan dengan perasaan kecewa, sedih, bingung atau putus asa. Masalahnya bisa beragam, mulai dari masalah asmara, persahabatan, kesehatan,keuangan atau keluarga.  Apa yang menyebabkan kita mengalami kekecewaan dan kesedihan, masalah itu sendiri atau bagaimana cara kita meresponnya?

Saya sering kali membaca para motivator dan psikolog mengungkapkan bahwa kejadian hanya merupakan sebuah kejadian, bagaimana Anda meresponnya itu adalah hal yang paling penting.  Awalnya, bagi saya kalimat ini tidak bermakna apa-apa karena ketika dilanda suatu kejadian yang tidak saya sukai atau inginkan, hal tesebut menjadi sebuah masalah yang menyebabkan kesedihan dan kegundahan.

Salah satu pengalaman berkesan yang pernah saya alami adalah perkara asmara. Seperti kebanyakan orang yang galau karena cinta, sayapun pernah mendapat giliran untuk mencicipi kegalauan tersebut.

Satu tahun yang lalu, pertama kali saya mengenal Mr.X, mata dan hati mendadak menjadi berbunga. Senyumnya, tatapannya, raut wajahnya, cara bicaranya, u..la..la, begitu mempesona. Ingin rasanya bernyanyi “Bunga-bunga bermekaran”. Kala itu, saya mengalami apa yang disebut “JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA”. Setelah melihat sang Mr.X, semua lagu-lagu tentang jatuh cinta menjadi amat bermakna. Saya begitu bahagia dan bersemangat ketika bisa melihat dan bersamanya.

Singkat cerita, komunikasipun terjalin dan pada saat itu saya mulai memiliki harapan-harapan kepada sang idola. Akan tetapi, sayang beribu sayang, suatu hari terdengar kabar bahwa orang yang saya damba ternyata MENYUKAI ORANG LAIN dan itu memang benar. Gubrak…., disanalah kegalauan melanda dan menghempaskan angan-angan serta semangat saya. Tiba-tiba saja pikiran negatif datang dan kesedihanpun tidak bisa dihindari. Di saat itu, semua lagu-lagu tentang patah hati membuat saya BAPER (terbawa perasaan) dan akhirnya saya menangis. Mendadak saja rasa yang tadinya mengangumi berubah menjadi malu, mau menjauh bahkan kadang membenci. Ingin rasanya biasa saja, tapi sakit dan luka tadi terus membuat pikiran-pikiran negatif menguasai saya dan keadaanpun semakin parah.

Mencurahkan isi hati sana-sini ternyata  hanya mampu membawa ketenangan sesaat. Dikala sendiri, lagi-lagi saya menolak rasa itu, menolak kejadian itu dan menolak diri sendiri. Saya menolak perasaan mencintai seseorang yang tidak menyukai saya. Namun, apa yang terjadi ketika saya menolak kejadian dan perasaan tersebut? Ia menjadi bertambah kuat dan membuat saya diselimuti kesedihan hampir selama satu bulan. Saya kerap menangis dan susah tidur.

 

Setelah mencari-cari pemecahan masalah tersebut, akhirnya saya bertemu dengan mutiara kebijaksanaan untuk menjelaskan kejadian ini dan bagaimana menyelesaikannya; Pikiran merupakan semua sumber pengalaman. Dengan mengubah arah pikiran, kita bisa mengubah kualitas pengalaman kita. Ketika Anda mentransformasi pikiran Anda, semua hal yang Anda alami juga berubah. Ini sama dengan memakai kaca mata kuning; tiba-tiba semua yang Anda lihat menjadi kuning.

Semenjak saat itu, saya memahami bahwa kesedihan yang saya alami berasal dari 2 arah pikiran; 1) pikiran yang menganggap kejadian tersebut adalah sebuah sumber ketidakbahagiaan dan 2) pikiran yang menolak kejadian serta perasaan saya sendiri. Jadi, sayapun mulai belajar untuk mengubah kualitas pikiran saya menjadi pikiran yang menerima tanpa memberikan reaksi apapun. Saya tidak lagi mempertanyakan mengapa saya menyukai dia, mengapa dia menyukai orang lain, bagaimana ini bisa terjadi, seharusnya seperti ini, sebaiknya begitu.

Selanjutnya, saya mengubah cara pandang tentang kejadian ini. Tidak disukai oleh orang yang kita dambakan bukan merupakan suatu masalah atau penyesalan, tapi ini adalah sebuah berkah. Berkah karena pengalaman tersebut memberikan kesempatan bagi saya untuk mengalami banyak rasa, mendapatkan pembelajaran agar mengikhlaskan suatu kejadian serta memperluas makna mencintai.

Pada awal mulai menerima pikiran-pikiran tentangnya sungguh jauh dari kata mudah, tapi ternyata ketika tekun berlatih untuk mulai mengamati dan menerima pikiran itu, saya memahami satu hal “apa yang saya percaya selama ini adalah imajinasi yang benar-benar kosong dan tidak nyata”.  Realita sesungguhnya baik-baik saja. Tapi pikiranlah yang membuatnya menjadi tambah runyam, menakutkan dan menyedihkan.

Setelah mulai mengubah arah pikiran, berangsur-angsur saya menjadi pulih dan tersadar bahwa selama ini sayalah yang menyiksa diri dengan menolak apa yang telah terjadi dan membiarkan pikiran atau perasaan negatif menguasai saya. Jadi, benar bahwa bagaimana kita merespon suatu kejadian adalah hal yang paling mendasar dalam menentukan kualitas pengalaman tersebut.

Oleh kaena itu, pembelajaran dari kejadian ini yang wajib diingat adalah; ketika ada kesusahan atau kesedihan yang muncul, jangan terburu-buru untuk mencari penyebab atau solusi masalah itu diluar diri. Kita belajar untuk sejenak hening, melihat ke dalam diri, apa yang salah dengan arah pikiran kita. If we  find, change it, then everything will change.

 

Oleh;

Pembelajar Bahagia

2 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *