Tersihir Dalam Diam

Sebagai generasi yang  hidup pada zaman serba  canggih dan instan, semua hal terasa berlangsung dan berlalu dengan cepat. Arus informasi datang dan pergi, silih berganti. Rasanya tidak ada celah untuk berhenti. Sebagian besar waktu saya lalui dengan kesibukan dalam pekerjaan, mencari hiburan atau menjelajah informasi dan berkomunikasi di dunia cyber.  Sehingga, ada satu hal yang jarang sekali untuk  saya lakukan, yaitu duduk diam dan hanya mengamati.

Suatu pagi saya tiba-tiba bangun dengan perasaan yang sangat bersemangat untuk olahraga dan lari pagi. Tepat pukul 5.30, saya sudah berlari sendiri di sekitar rumah dan terbersit ide untuk pergi ke bukit yang tidak jauh dari situ. Awalnya terasa hal ini akan berbahaya karena mungkin ada banyak anjing liar di atas sana atau saya akan terlihat seperti orang aneh yang keluyuran di bukit sendiri tanpa tujuan.

Namun, pikiran tersebut tidak terhiraukan dan akhirnya sayapun mulai mendaki bukit. Dengan nafas yang terengah-engah, akhirnya saya tiba diatas. Disana, saya hanya duduk, diam tanpa keinginin apapun. Perlahan saya menarik nafas dengan dalam merasakan hembusan angin pagi yang begitu sejuk dan memandangi apa yang saat ini terbentang dihadapan saya.

“Seperti tersihir, saya melihat semuanya menakjubkan. Semuanya. Mulai dari embun pagi yang memayungi gunung-gunung menjulang tinggi. Gumpalan awan  yang selalu berganti  wajah, tak ubahnya sebuah sulap  yang bisa disaksikan setiap saat, berbagai warna, beribu bentuk, bergerak walau tak tau entah kemana mereka pergi, tapi tampaknya selalu ada keserasian. Dalam hati saya bergumam, jika dunia bagaikan galeri, maka langit adalah lukisan terindah yang bisa dilihat setiap waktu. Nyanyian burung terdengar nan merdu, ketika mengamati mereka terbang, terasa bagaimana burung- burung tersebut sangat bebas, melayang, meliuk dan meluncur tanpa batas.

Desiran angin yang begitu lembut menyapa badan. Sangat lembut. Jika benar-benar dirasakan, hembusan itu seperti menerbangkan semua masalah, kegundahan dalam pikiran dan hanya menyisakan satu rasa yaitu; syukur. Ke arah timur, bisa saya saksikan sang mentari yang sedang melakukan pertunjukan, perlahan-lahan keluar dengan kemegahan sinarnya. Seketika dedaunan dan bukit menghijau saat sinar mentari mengecupinya. Oh Tuhan,, inikah yang disebut berseri. Mereka benar – benar hidup. Alam sedang bergembira. Seketika itu saya merasakan badan yang sangat ringan, pipi ini hangat oleh tetesan air mata bahagia. Dalam hatiku bergumam Tuhan saya ingin  selalu  seperti ini, selamanya begini.”

Mungkin rasa yang pernah saya alami ini sering dialami sebagian besar orang. Menikmati pemandangan atau duduk diam  memang banyak memberikan manfaat. Terapist ternama, Dr.Collen Long  menyarankan daripada saat libur kita menggunakan waktu untuk berselancar di media sosial, nonton drama atau main game, kita bisa memilih untuk diam tak melakukan apapun. Maksudnya adalah mengambil jeda untuk tak melakukan apapun, menikmati detik demi detik berdiam diri. Kita bisa meditasi, berdzikir, atau duduk di sekitar beranda menikmati waktu. Manusia disarankan berdiam diri dan menikmati hening sebisa mungkin setiap harinya. Dengan mengambil jeda dan sejenak hening seseorang akan bisa berpikir lebih bijak.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *