Tersihir Dalam Diam

Sebagai generasi yang  hidup pada zaman serba  canggih dan instan, semua hal terasa berlangsung dan berlalu dengan cepat. Arus informasi datang dan pergi, silih berganti. Rasanya tidak ada celah untuk berhenti. Sebagian besar waktu saya lalui dengan kesibukan dalam pekerjaan, mencari hiburan atau menjelajah informasi dan berkomunikasi di dunia cyber.  Sehingga, ada satu hal yang jarang sekali untuk  saya lakukan, yaitu duduk diam dan hanya mengamati.

Suatu pagi saya tiba-tiba bangun dengan perasaan yang sangat bersemangat untuk olahraga dan lari pagi. Tepat pukul 5.30, saya sudah berlari sendiri di sekitar rumah dan terbersit ide untuk pergi ke bukit yang tidak jauh dari situ. Awalnya terasa hal ini akan berbahaya karena mungkin ada banyak anjing liar di atas sana atau saya akan terlihat seperti orang aneh yang keluyuran di bukit sendiri tanpa tujuan.

Namun, pikiran tersebut tidak terhiraukan dan akhirnya sayapun mulai mendaki bukit. Dengan nafas yang terengah-engah, akhirnya saya tiba diatas. Disana, saya hanya duduk, diam tanpa keinginin apapun. Perlahan saya menarik nafas dengan dalam merasakan hembusan angin pagi yang begitu sejuk dan memandangi apa yang saat ini terbentang dihadapan saya.

“Seperti tersihir, saya melihat semuanya menakjubkan. Semuanya. Mulai dari embun pagi yang memayungi gunung-gunung menjulang tinggi. Gumpalan awan  yang selalu berganti  wajah, tak ubahnya sebuah sulap  yang bisa disaksikan setiap saat, berbagai warna, beribu bentuk, bergerak walau tak tau entah kemana mereka pergi, tapi tampaknya selalu ada keserasian. Dalam hati saya bergumam, jika dunia bagaikan galeri, maka langit adalah lukisan terindah yang bisa dilihat setiap waktu. Nyanyian burung terdengar nan merdu, ketika mengamati mereka terbang, terasa bagaimana burung- burung tersebut sangat bebas, melayang, meliuk dan meluncur tanpa batas.

Desiran angin yang begitu lembut menyapa badan. Sangat lembut. Jika benar-benar dirasakan, hembusan itu seperti menerbangkan semua masalah, kegundahan dalam pikiran dan hanya menyisakan satu rasa yaitu; syukur. Ke arah timur, bisa saya saksikan sang mentari yang sedang melakukan pertunjukan, perlahan-lahan keluar dengan kemegahan sinarnya. Seketika dedaunan dan bukit menghijau saat sinar mentari mengecupinya. Oh Tuhan,, inikah yang disebut berseri. Mereka benar – benar hidup. Alam sedang bergembira. Seketika itu saya merasakan badan yang sangat ringan, pipi ini hangat oleh tetesan air mata bahagia. Dalam hatiku bergumam Tuhan saya ingin  selalu  seperti ini, selamanya begini.”

Mungkin rasa yang pernah saya alami ini sering dialami sebagian besar orang. Menikmati pemandangan atau duduk diam  memang banyak memberikan manfaat. Terapist ternama, Dr.Collen Long  menyarankan daripada saat libur kita menggunakan waktu untuk berselancar di media sosial, nonton drama atau main game, kita bisa memilih untuk diam tak melakukan apapun. Maksudnya adalah mengambil jeda untuk tak melakukan apapun, menikmati detik demi detik berdiam diri. Kita bisa meditasi, berdzikir, atau duduk di sekitar beranda menikmati waktu. Manusia disarankan berdiam diri dan menikmati hening sebisa mungkin setiap harinya. Dengan mengambil jeda dan sejenak hening seseorang akan bisa berpikir lebih bijak.

 

CARA AMPUH MENGATASI GALAU

Belakangan ini kita tampaknya lebih akrab dengan kata galau daripada bahagia. Kata galau begitu popular di kalangan remaja dewasa, bahkan anak-anak. Sering kali galau diasosiasikan dengan perasaan kecewa, sedih, bingung atau putus asa. Masalahnya bisa beragam, mulai dari masalah asmara, persahabatan, kesehatan,keuangan atau keluarga.  Apa yang menyebabkan kita mengalami kekecewaan dan kesedihan, masalah itu sendiri atau bagaimana cara kita meresponnya?

Saya sering kali membaca para motivator dan psikolog mengungkapkan bahwa kejadian hanya merupakan sebuah kejadian, bagaimana Anda meresponnya itu adalah hal yang paling penting.  Awalnya, bagi saya kalimat ini tidak bermakna apa-apa karena ketika dilanda suatu kejadian yang tidak saya sukai atau inginkan, hal tesebut menjadi sebuah masalah yang menyebabkan kesedihan dan kegundahan.

Salah satu pengalaman berkesan yang pernah saya alami adalah perkara asmara. Seperti kebanyakan orang yang galau karena cinta, sayapun pernah mendapat giliran untuk mencicipi kegalauan tersebut.

Satu tahun yang lalu, pertama kali saya mengenal Mr.X, mata dan hati mendadak menjadi berbunga. Senyumnya, tatapannya, raut wajahnya, cara bicaranya, u..la..la, begitu mempesona. Ingin rasanya bernyanyi “Bunga-bunga bermekaran”. Kala itu, saya mengalami apa yang disebut “JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA”. Setelah melihat sang Mr.X, semua lagu-lagu tentang jatuh cinta menjadi amat bermakna. Saya begitu bahagia dan bersemangat ketika bisa melihat dan bersamanya.

Singkat cerita, komunikasipun terjalin dan pada saat itu saya mulai memiliki harapan-harapan kepada sang idola. Akan tetapi, sayang beribu sayang, suatu hari terdengar kabar bahwa orang yang saya damba ternyata MENYUKAI ORANG LAIN dan itu memang benar. Gubrak…., disanalah kegalauan melanda dan menghempaskan angan-angan serta semangat saya. Tiba-tiba saja pikiran negatif datang dan kesedihanpun tidak bisa dihindari. Di saat itu, semua lagu-lagu tentang patah hati membuat saya BAPER (terbawa perasaan) dan akhirnya saya menangis. Mendadak saja rasa yang tadinya mengangumi berubah menjadi malu, mau menjauh bahkan kadang membenci. Ingin rasanya biasa saja, tapi sakit dan luka tadi terus membuat pikiran-pikiran negatif menguasai saya dan keadaanpun semakin parah.

Mencurahkan isi hati sana-sini ternyata  hanya mampu membawa ketenangan sesaat. Dikala sendiri, lagi-lagi saya menolak rasa itu, menolak kejadian itu dan menolak diri sendiri. Saya menolak perasaan mencintai seseorang yang tidak menyukai saya. Namun, apa yang terjadi ketika saya menolak kejadian dan perasaan tersebut? Ia menjadi bertambah kuat dan membuat saya diselimuti kesedihan hampir selama satu bulan. Saya kerap menangis dan susah tidur.

 

Setelah mencari-cari pemecahan masalah tersebut, akhirnya saya bertemu dengan mutiara kebijaksanaan untuk menjelaskan kejadian ini dan bagaimana menyelesaikannya; Pikiran merupakan semua sumber pengalaman. Dengan mengubah arah pikiran, kita bisa mengubah kualitas pengalaman kita. Ketika Anda mentransformasi pikiran Anda, semua hal yang Anda alami juga berubah. Ini sama dengan memakai kaca mata kuning; tiba-tiba semua yang Anda lihat menjadi kuning.

Semenjak saat itu, saya memahami bahwa kesedihan yang saya alami berasal dari 2 arah pikiran; 1) pikiran yang menganggap kejadian tersebut adalah sebuah sumber ketidakbahagiaan dan 2) pikiran yang menolak kejadian serta perasaan saya sendiri. Jadi, sayapun mulai belajar untuk mengubah kualitas pikiran saya menjadi pikiran yang menerima tanpa memberikan reaksi apapun. Saya tidak lagi mempertanyakan mengapa saya menyukai dia, mengapa dia menyukai orang lain, bagaimana ini bisa terjadi, seharusnya seperti ini, sebaiknya begitu.

Selanjutnya, saya mengubah cara pandang tentang kejadian ini. Tidak disukai oleh orang yang kita dambakan bukan merupakan suatu masalah atau penyesalan, tapi ini adalah sebuah berkah. Berkah karena pengalaman tersebut memberikan kesempatan bagi saya untuk mengalami banyak rasa, mendapatkan pembelajaran agar mengikhlaskan suatu kejadian serta memperluas makna mencintai.

Pada awal mulai menerima pikiran-pikiran tentangnya sungguh jauh dari kata mudah, tapi ternyata ketika tekun berlatih untuk mulai mengamati dan menerima pikiran itu, saya memahami satu hal “apa yang saya percaya selama ini adalah imajinasi yang benar-benar kosong dan tidak nyata”.  Realita sesungguhnya baik-baik saja. Tapi pikiranlah yang membuatnya menjadi tambah runyam, menakutkan dan menyedihkan.

Setelah mulai mengubah arah pikiran, berangsur-angsur saya menjadi pulih dan tersadar bahwa selama ini sayalah yang menyiksa diri dengan menolak apa yang telah terjadi dan membiarkan pikiran atau perasaan negatif menguasai saya. Jadi, benar bahwa bagaimana kita merespon suatu kejadian adalah hal yang paling mendasar dalam menentukan kualitas pengalaman tersebut.

Oleh kaena itu, pembelajaran dari kejadian ini yang wajib diingat adalah; ketika ada kesusahan atau kesedihan yang muncul, jangan terburu-buru untuk mencari penyebab atau solusi masalah itu diluar diri. Kita belajar untuk sejenak hening, melihat ke dalam diri, apa yang salah dengan arah pikiran kita. If we  find, change it, then everything will change.

 

Oleh;

Pembelajar Bahagia

Rectoverso : Anda adalah Ke-u-Tuhan

source : mmrectoverso.org/

 

 

Malam ini, sejenakhening.com akan menuliskan sebuah informasi kehidupan dari Deelestari (supernova : kesatria, putri dan bintang jatuh) tentang Rectoverso. Tulisan ini selalu asik untuk dibaca. ini adalah evolusi kesadaran manusia.

Rectoverso adalah gambar yang saling mengisi antarmuka belakang dan depan. salah satu contoh rectoverso yang bisa kita temui sehari-hari adalah ikon gambar uang kertas.

Misalnya ada sebuah rectoverso yang secara utuh berupa lingkaran yang di dalamnya. ada lima kelopak, berjajar teratur, dan berpusat pada satu titik tengah.

Pada satu sisi kertas, gambar yang dimunculkan adalah lingkaran dengan tiga kelopak. pada sisi lain, gambar lingkaran dengan dua kelopak, yang apabila disatukan dengan sisi baliknya akan menampilkan rectoverso yang utuh, lingkaran dengan lima kelopak yang teratur dan berpusat pada satu titik tengah.

Perspektif (cara pandang) kita yang parsial tidak akan mampu melihat bahwa diri kita sebenarnya adalah rectoverso. terlalu banyak manusia yang menghabiskan seumur hidupnya dalam perasaan hampa, seakan-akan ada sesuatu yang hilang dari dirinya dan tidak tahu apa. Lalu mereka mencari dan mencari. Keluar dari inti (diri) mereka sendiri, dan kemudian tersesat. Dengan bermacam-macam cara mereka, lalu memeras keringat dan otak untuk mendefinisikan “sesuatu” yang hilang itu, yang kebanyakan mereka anggap di “luar” sana.

Manusia memang seolah didesain untuk menunaikan satu misi, yakni mencari tahu asal usul mereka, demi kembali merasakan keutuhan itu, yang niscaya akan membuat mereka berhenti merasa kecil dan terasing ditengah megahnya jagat raya ini.

Lalu bagaimana kalau ternyata apa yang kita kira selama ini sebagai ketidaklengkapan sebenarnya hanyalah rectoverso belaka? yang artinya, kita tidak perlu kemana-mana. yang artinya lagi, untuk merasa utuh kita hanya perlu mengubah perspektif (cara pandang) kita.

Ketika kita berhasil mengambil jarak dari benih-benih pemecah belah dalam pikiran kita, rectoverso akan tampil. yang artinya lagi, apa yang anda Ingin cari tidak berada di luar sana. sebaliknya, sangat dekat, tak berjarak. temukan kunci anda, dan putar. lihat dengan cara yang lain.

Berhenti merasa hampa. Berhentilah minta tolong untuk dilengkapi. Berhentilah berteriak-teriak ke sesuatu di luar sana. Berhentilah bertingkah seperti ikan di dalam kolam yang malah mencari-cari air. Apa yang anda butuhkan semuanya sudah tersedia.

Tidak ada seorang pun mampu melengkapi apa yang sudah utuh. Tidak ada sesuatu pun dapat mengisi apa yang sudah penuh. tidak ada satu pun yang dapat berpisah satu sama lain.

Tinggal kemauan Anda untuk mampu MENYADARINYA, atau tidak. Temukan Kunci Anda, dan Putar.

—————————————————

jadi cara pandang kita lah yang membuat kita merasa sesuatu dalam diri kita tidak lengkap. lalu seolah-olah berterik mencari kelengkapannya di luar. tetapi bukti sudah menunjukan, alam sudah memperlihatkan. kemana pun usaha anda melengkapi, tak jua terlengkapi.

banyak kasus rumah tangga yang awal dibina muncul kalimat “kami berdua cocok kami berdua saling melengkapi, dia melengkapi saya, saya melengkapi dia” lalu tak lama berselang, keduanya berpisah dengan alasan klasik “ternyata kami tidak cocok, banyak yang tidak sesuai”

bahasannya sederhana. seseorang merasa tidak lengkap, lalu dia menemukan orang lain yang terkesan bisa memenuhi ketidaklengkapannya, lalu dalam perjalanannya, orang lain itu tak mampu memenuhi ketidaklengkapannya. ketika seseorang makin merasa tidak utuh dan terasing dalam hidupnya, maka pilihannya adalah berpisah.

itu satu kasus sederhana. demikian juga dengan si pemain cinta. berlari dari satu pelukan ke pelukan lain, apa yang dicarinya. ia mencari sang pelengkap hidupnya untuk membuatnya utuh. tetapi apa yang sudah-sudah, ia semakin jatuh dalam kehancuran hidup

ada juga kasus susah move on dari mantan… terikat dengan hidup yang tidak lengkap tanpa mantan. kemudian hancur karena merasa tak berarti.

dan sebagian kasus lainnya, seperti kehilangan penghargaan, kehilangan harga diri, keserakahan hinggan posesif tak berkesudahan.

Temukan kunci anda untuk merubahnya. mengubah perspektif anda tentang keutuhan diri Anda. anda adalah ke-u-Tuhan. satu hal yang memang membuat kita kesulitan menemukan kunci, yaitu luka di masa lalu oleh pengasuh kita. oleh karena itu, cara sederhana yang dapat dilakukan adalah sejenakhening.

sejenakhening adalah cara yang saya lakukan untuk melatih pikiran menyadari hukum keutuhan yang berlaku dalam hidup ini. cara untuk mengambil jarak dan melihat dengan lebih dalam. Dengan cara ini saya bersandar sepenuhnya pada yang punya kehidupan. mempelajari hukum keutuhan yang Dia ciptakan. agar saya tak mencari kemana-mana, tetapi ke dalam diri saya dan menemukan Fitrah yang utuh yang Ia tiupkan sejak embrio terbentuk. dengan cara ini juga saya belajar melepaskan jerat masa lalu yang menghalangi saya menemukan kunci merubah hidup saya.

terima kasih.

Jerat Penjara Cinta

Tengah malam saya tiba-tiba terbangun sambil terbatuk-batuk. ada aliran informasi yang tiba-tiba memaksa saya terbangun. lalu saya meminta teman saya untuk menyodorkan air minum yang terletak di sampingnya.
Perlahan, saya minum dan mencerna aliran informasi di kepala saya yang teracak membingungkan. satu hal yang saya tahu, nama informasi itu adalah Jeratan Penjara Cinta.

Ya, dalam beberapa waktu terakhir, saya mendengarkan kisah orang-orang yang terjerat dalam penjara cinta. perkara mencinta dan dicintai, perkara memiliki dan melepaskan, perkara mencari pengakuan dan pembuktian, perkara tersakit dan menyakiti. katanya demikian lah cinta, deritanya tiada akhir.

————————————————————

Di salah satu orang, rasa cintanya demikian besar, kerinduan untuk memiliki dan selalu membersamainya begitu kuat. hingga dia bahkan berkali-kali berteriak “saya mencintai dia kak, saya mencintai, kenapa begini, saya tidak bisa melepaskan dia”
Dia meyakini sesuatu, tiada yang paling menyakitkan selain cinta yang tak berbalas.

Ya, dia sakit karena cintanya yang tak berbalas, sedikit pun tak berbalas.

Kerap dia menyatakan, sudah demikian besar cintanya namun kenapa tak mampu menembus perasaan orang itu. kerap dia bertanya, apalagi yang bisa dia berikan agar orang itu dapat membalas cintanya. kerap juga dia berkata, sudah semua hal dia lakukan untuk selalu ada bersama dia, tetapi tak kunjung hadir perasaan orang itu membalas cintanya.

Hingga akhirnya, dari semua pertanyaan dan pernyataan itu, dia semakin dalam menggali lukanya untuk terus menerus merasa sakit yang tak terperih. dia mulai terikat oleh Perasaan yang katanya bernama CInta. Dia terjebak dalam Penjara Cinta yang membuat lukanya kian menganga dan merana. 24 jam habis waktunya melihat dan merasakan luka yang tak terperih, 7 hari waktunya habis untuk merindu, 1 bulan waktunya habis untuk berharap pembalasan yang sama dari orang yang dicintainya. dan kini sudah setahun, dia tak sadar bahwa segala kehidupnya telah dipangkas seperti bonsai, terbatas tanpa berkembang, oleh rasa Mencintai itu. dia akhirnya lupa, menjalani kehidupan, lupa mengembangkan dirinya, lupa menikmati kehidupan, lupa mensyukuri kehidupan. Lupa kalau dia Jiwa yang pantas bahagia. ya, penyakit manusia yang mencintai tanpa berbalas adalah “LUPA” kalau dia pantas bahagia.

 

Di salah satu orang berikutnya, rasa tak mencintainya begitu besar. perkara kali ini adalah dicintai demikian besar, kuat dan dalam oleh orang lain. dia tersakiti, terluka dan tak berdaya karena dicintai oleh orang lain. Jika seseorang sebelumnya sakit karena mencinta, dia sakit karena dicinta.

Ya, dia sakit karena dicinta, karena dia tak ingin dicinta seperti demikian

Kerap dia menyatakan pikirannya yang kalut, keruwetan dalam pikirnya, kesakitan dalam deritanya. mengapa demikian sakit dicintai. dia mengeluhkan bagaimana dirinya di kurung dalam sangkar ayam, tak boleh pergi, tak boleh melakukan apapun yang diinginkan. kerap dia menyatakan, sudah demikian tersakitinya dirinya sedangkan orang lain itu tak jua berhenti mencintanya. kerap dia menanyakan, apakah orang itu tak punya perasaan sampai demikian mencinta hingga menyakitinya. kerap pula dia mengeluh dan mengeluh mengapa orang itu tak henti-hentinya menyakitinya “katanya cinta, tetapi kenapa begini, kenapa selalu minta dimengerti perasaan, kapan mengerti perasaanku”

 

Hingga akhirnya dari semua pertanyaan dan pernyataan itu, dia sama seperti teman satunya, menggali luka jiwa demikian dalam untuk terus menerus tersakit dan tak berdaya dengan alasan “karena perlakuan orang lain”. bahkan yang terburuk, tak cuma luka jiwa yang telah ia gali, ia telah menggali luka fisik sedemikian besar sebagai tanda, alam pun berontak atas penderitaanya. Dia terjebak dalam perasaan yang namanya Cinta. dia terjebak dalam penjara cinta yang membuatnya tak berdaya untuk mengambil peran dalam hidupnya. Lihat bagaimana “bodoh”nya dia mau terjebak dalam lingkaran penderitaan dengan terus-menerus menyalahkan orang lain yang menyakitinya karena mencinta.

 

Bukankah mencinta adalah Hak setiap Orang? yaa, tak ada yang salah sebenarnya dari kelakukan orang yang mencinta itu, orang itu berhak untuk mencinta, dan teman saya ini pun Berhak untuk tak mencinta. lalu masalahnya dimana jika dia mau menghargai. Demikianlah orang yang hidup dalam jerat penjara cinta. dia Lupa kalau dia tidak punya kewajiban apa-apa untuk membalas cinta itu, dia lupa kalau dia tak punya kewajiban apa-apa untuk turut serta dalam derita itu. Dia lupa, kalau yang membuatnya menderita bukan orang yang mencinta itu, melainkan DIRINYA sendiri. ya dirinya sendiri yang menyakiti dirinya, bukan orang itu, dia yang mengizinkan dirinya Menderita, dia membuat pertalian yang erat dalam pernyataan “saya capek dibuat begini terus kak, kapan dia mau berubah, saya mau dia berubah” pernyataan demikian adalah Jerat Penjara Cinta. jerat ketika kita mengharapkan orang lain yang merubah perasaannya, bukan kita yang merubah diri kita menghadapi penderitaan. dia Lupa, dia adalah pemimpin dirinya sendiri, daripada menunggu orang itu berhenti mencinta, mengapa bukan dia yang memutuskan untuk tak Berhak Menderita…

 

Di salah satu berikutnya lagi, tak terlihat paras derita atau kesakitan, tak terlihat luka dan kesedihan. yang terlihat sebaliknya, wajah tampak bahagia, merona merah, ekspresi tawa yang besar. itu lah bentuk Jerat Penjara Cinta berikutnya. dia tampak bahagia karena sedemikan banyak orang yang mencintai dia dan yang bisa dia cintai. seperti katalog yang barangnya selalu tersedia, dia serasa bahagia bisa memilih demikian banyak barang dalam katalognya. benar kah dia Mencinta? benar kah dia dicintai? atau apa yang dia lakukan adalah bentuk mencari Pengakuan dan mencari Pembuktian bahwa “saya hebat!”

 

Kerapkali dalam kasus ini, penampakan bahagia hanya di luar saja. Coba dia melirik sejenak ke dalam, tampak luka borok di sana. Ia belum sadar kalau ia terluka. Ada hari-hari ketika dia bersama secara fisik dengan orang yang katanya dicintai dan mencintai, tetapi ia tak merasa nyaman secara penuh di jiwa. Dekat secara fisik, namun tak nyaman secara jiwa. Ada rindu yang demikian besar untuk selalu bersama secara fisik, namun ada hampa yang luar biasa dalam jiwa.

 

Kerap timbul pertanyaan, apa yang saya cari dari ini semua, kenapa saya melakukannya namun saya tak merasa bahagia dan menjadi diri sendiri. Kerap muncul pernyataan betapa sepi dan sendirinya saya sendiri meski saya bersama orang-orang. Kerap muncul rasa kerinduan untuk diterima apa adanya, untuk menujukan diri bahwa saya lemah, kerap hadir dalam diri rasa takut, rasa ditolak, rasa lelah karena selalu tampak Kuat padahal tak demikian. pada titik tertentu, dia terjebak hanyak mengulang-ngulang berhubungan dengan orang, melompat sana sini, berelasi lebih dari satu. Kesana kemari mencari sesuatu.

 

Hingga pada pada akhirnya, di titik sendirinya, dia sebenarnya capek, dia lelah, karena di semua tempat yang dia cari itu, dia tak menemukan apa-apa. Dia terjebak dalam jeratan Penjara Cinta. Dia terkungkung seperti bonsai itu lagi. Setiap tumbuh, dipangkas, setiap berkembang, dimatikan. Jeratan Penjara Cinta seperti apa yang menjebaknya. Ya dia dia terjebak dalam usahanya mencari CINTA yang menerima Dia apa adanya. Dia terjebak untuk terus membuktikan diri dan menunjukan dirinya yang Kuat. Bayangkan. Dia terjebak UNTUK MENUNJUKAN DIRINYA, UNTUK MEMBUKTIKAN DIRINYA BAHWA IA KUAT DAN HEBAT. Untuk apa dia melakukan itu, karena dia takut kehilangan orang lain, takut tidak dicintai orang lain, takut tidak dianggap orang lain. Dia tidak pernah menjadi dirinya sendiri, dicintai dengan penuh penerimaan. Dia terjebak pada pemikiran bahwa dia hanya dicintai jika dia Hebat, jika dia Kuat. Maka ke sana kemari lah dia membuktikan dan mencari pembuktian.

 

Cinta apa yang menjebaknya? Penjara Cinta bahwa mencintai adalah Mesti Kuat dan HEBAT. Selamat terjebak dalam percintaan itu.

 

Dan kisah cinta berikutnya adalah ketakutan untuk mencinta. Kali ini jebakan jerat cinta justu membuatnya takut. Dia takut mencinta. Karena mencinta orang lain yang tak boleh dicintai.

 

Ya dia sakit karena mencintai dan tak boleh dicintai. Perkara sama tentang cinta. Dia terluka, tersakiti tak terperih.

 

Semakin dalam menggali luka, semakin dalam menggali derita. Terikat dalam hubungan rumit antara cinta. Dia “lupa” kalau mencinta itu bebas, perkara itu boleh atau tidak adalah normatif penjara manusia. Dia “lupa” cinta itu perasaan ketulusan saja, perasaan mengasihi saja, perasaan menerima dan memberi saja, lalu terjebak dalam perkara boleh atau tak boleh. Pun tidak boleh, apa yang beda dari Cinta itu. Sayangnya kelupaannya karena harapan yang tinggi untuk dibalas cintanya akhirnya menyakitinya. Selama dia mencinta demikian, selama itu kesakitan deritanya.

 

-—————————————————————

 

Mengapa jerat ini melingkupi kita.
Jawaban ini bukan jawaban mutlak, anda semua boleh punya jawaban. Tetapi bagi saya jawabannya sederhana

“Orang yang kekurangan cinta dari pengasuhnya, kesulitan mencintai dirinya sendiri, orang yang sulit mencintai dirinya sendiri akan sulit mencintai orang lain”
Apa yang terjadi dgn cerita di atas adalah bukti sederhana bahwa manusia-manusia kekurangan cinta akan hidup dalam derita. Mereka akn mencari pemenuhan kebutuhan akan cinta di luar dirinya. Mencari pemenuhan pembuktian di luar dirinya. Dan selama pencarian itu terus dilakukan di luar dirinya, maka dia akan terus berhadapan dalam ketidakpastian. Mengapa, karena dia mengharapkan orang lain memenuhi cintanya padahal orang lain yang diharapkan itu juga hidup dalam derita Jeratan Penjara Cinta.

 

Lalu ketika orang-orang mencari pemenuhan pada sesama yang terjerat, bagaimana dia mendapatkan Cinta yang Sejati.

 

Orang-orang demikian akan selamanya terjebak dalam Jeratan Penjara Cinta. Mereka membawa luka masa lalu dari pengasuh ketika mereka diabaikan sewaktu anak-anak. Mereka membawa luka masa lalu ketika mereka tidak diterima apa adanya dan harus hidup dengan syarat-syarat. Mereka membawa luka masa lalu ketika dikhianati, disakiti dan menjadi korban perselingkuhan keluarga.

 

Ketika luka-luka itu dibawa hingga dewasa, maka jeratan kekurangan cinta itu berbentuk macam-macam. Ada kemarahan, kesepian, kehilangan, ketakutan, penolakan dan tak berdaya, merasa ciut tak mampu menjadi apa-apa. Ketika kekurangan cinta berbentuk demikian, maka CINTA BERIKUTNYA KEPADA ORANG LAIN TAK PERNAH LAGI TULUS, TAK PERNAH LAGI MENJADI CINTA MELAINKAN MENJADI PENGHARAPAN UNTUK MEMENUHI LUKA JIWA MASA LALU.

 

Jadi apa yang bisa dilakukan untuk melepas jerat ini?

 

Sadari Luka Jiwamu, Terima bagimana itu terjadi, jika sudah bisa menerima, belajar Memaafkan Luka itu. Dan LEPASKAN LUKA ITU. Hidup tidak hanya tentang luka di masa lalu. Bagaimana melalukannya?
Jangan pernah mencarinya kepada orang lain di luar dirimu. Energi Cinta yang luar biasa adalah Cinta yang berasal dari orang yang kamu temui setiap pagi di hadapan Cermin. Ya Dirimu Sendiri.

 

Energi penyembuh dari jerat cinta yang luar biasa ini adalah Mencintai Dirimu sendiri dan Dicintai dirimu sendiri. Begitu kau berubah dapat melakukannya pada dirimu sendiri, maka kita akan membantu orang lain yang terjebak dalam jerat cinta. Ingat, kau berubah maka orang lain berubah.
Selamat menjalani jerat penjara cinta dan menerimanya.

 

Anak Gadget : Memahami Alasan dibalik Perlakuan Orangtua

Si Anak Gadget…

Dia yang mengenal dirinya Sendiri, Dia mengenal Tuhannya.

Dia yang mendalami dirinya, Dia memahami luasnya Semesta

Dia yang mencintai dirinya, Dia memiliki segalanya

Dia yang memiliki segalanya, Dia memahami ketulusan…


 

Cerita di pagi hari. Tentang pengetahuan yang semestinya diiringi pemahaman tentang diri…

 

Suatu hari, teman saya, seorang ayah. Dia berkonsultasi tentang anaknya.

Dari wajahnya, saya melihat ia dipenuhi kekhawatiran dan kecemasan mendalam.

Katanya, ia sudah memeriksakan anaknya di bagian tumbuh kembang anak di satu rumah sakit, hasilnya, anaknya didiagnosa Autis.

Saya memahami berbagai gelombang perasaan yang kemudian muncul padanya.

Anak yang ia perjuangkan selama ini untuk hadir di dunia, anak yang ia tunggu bersama istri setelah melalui berbagai pengobatan,

tiba-tiba didiagnosa Autis.

Dengan bekal pemahaman minimal tentang gangguan anak (karena dasar keilmuan saya mendalami psikologi remaja dan adiksi), saya meminta ia membawa anaknya ke klinik kecil-kecilan di rumah.

Singkat cerita, datanglah teman saya membawa istri dan anaknya yang sangat lucu.

Saya menyapa hangat anaknya dengan penuh kelembutan (berhubung saya sangat suka anak-anak).

Saya memanggil namanya dan tersenyum sembari memandang mata lembutnya.

Saya terkejut, Ia tidak bisa memandang mata saya apalagi melirik ke arah saya meskipun saya menyapa dan memanggil namanya.

Ayahnya lantas menegurnya “om Ardi lho itu nak”

Saya katakan tak masalah. Lalu saya tetap menyapa dengan memanggil namanya beberapa kali. Ia tetap cuek, seolah-olah tidak ada manusia lain di sekitarnya.

Ia hanya fokus pada Gadget yang tergenggam erat di tangan ibunya.

Pelan-pelan saya mulai menyadari sesuatu. Gangguan ini tampaknya berhubungan dengan gadget.

Seperti biasa, saya mulai bertanya tentang keseharian anak dan keluhan yang dirasakan orangtua. Sementara itu, saya tetap melakukan observasi kepada anak saat ia bermain.

Berdasarkan cerita ibu, saya paham kalau ternyata anaknya mengalami keterlambatan perkembangan antara lain :

keterlambatan berjalan : Ia baru berjalan diusia 1 tahun 5 bulan.

keterlambatan berbicara. Ia belum mampu mengatakan sesuatu kecuali “aaakkkk” “iiiikkkkkk” dan beberapa ekspresi tangisan serta marah.

kesulitan merespon secara sosial terutama ketika disapa orang lain.

Menurut orangtua, interaksi anak dengan orang lain sangat terbatas, bahkan kepada orangtua pun juga terbatas. Ibu dan ayah khawatir dan terganggu ketika menyadari anaknya tidak mampu menjaga kontak mata dengan orang lain.

Saya bertanya apakah anak mengalami kesulitan fokus pada sesuatu, kata orangtua, tidak. Terhadap benda-benda, ia bisa memusatkan perhatian seolah-olah keingintahuannya tinggi. Terutama jika menonton video di gadget, ia akan sangat senang dan betah berlama-lama. Orangtua mengkhawatirkan perilaku anak yang hiperaktif ketika melakukan sesuatu, mereka merasa anaknya sibuk dengan dunianya sendiri sehingga mengesampingkan kehadiran orang lain, termasuk jika orang lain melarangnya melakukan sesuatu.

Melalui pengamatan saya, tampak bahwa apa yang dilakukan oleh anak masih tergolong wajar. Jika gangguannya adalah hiperaktif, keaktifannya masih dalam koridor yang wajar, bukan keaktifan yang tampaknya menjadi masalah untuk saat ini.

Saya kemudian melihat kesibukannya dengan dunianya sendiri. Saya merasa kesibukan itu dalam tahap wajar untuk seorang anak berusia 1 tahun 8 bulan.

Bila ia mengalami gangguan pemusatan perhatian, saya juga merasa masih dalam tahapan yang wajar, karena dalam beberapa hal, ia bisa menjaga dan memusatkan perhatian pada sesuatu yang dilihatnya.

Nah ketika menyadari hal itu, saya mulai bertanya-tanya. Jika ia bisa memusatkan perhatian pada benda mati dan gadget yang dimiliki ibunya, mengapa interaksi sosial pada manusia menjadi terbatas?

Saya memohon izin kepada orangtua untuk bertanya pada sahabat saya di luar kota tentang gangguan anak ini. Kebetulan sahabat saya ahli di bidang gangguan tumbuh kembang anak.

Dari berbagai keluhan yang saya sampaikan, teman saya dengan santai mengatakan, “Put, anak 1 tahun  8 bulan belum bisa didiagnosa Autis, jika pun ada gejalanya, masih harus terus menerus diperhatikan dan asesmen lebih mendalam. Untuk saat ini, yang bisa dilakukan adalah menangani dengan tepat agar gangguan anak tidak semakin parah.”

Lantas apa yang terjadi dengan anak ini. Sahabat saya menjawab dengan sederhana. “Mungkin saat ini anaknya sedang mengalami keterlambatan perkembangan, Put. Banyak macam penyebabnya, mungkin gangguan organik (genetik atau trauma otak), stimulasi yang kurang dari pengasuh, atau kekurangan gizi bisa juga put. Atau malah akibat paparan gadget yang orangtua nya berikan. Coba aja konseling tentang bagaimana pola ibu memberikan gadget pada anaknya!”

Akhirnya tanda tanya itu terjawab.

Saya memutuskan untuk mendalami pola asuh orangtua kepada anak.


Latar belakang keluarga :

Orangtua berasal dari keluarga yang mampu, bahkan berlebihan secara materi. Ibu tinggal bersama anak di sebuah ibukota kabupaten sedangkan ayah tinggal di ibu kota propinsi. Dalam mengasuh anak, ibu sering membaca berbagai tips tentang pengasuhan dan mengikuti berbagai kegiatan parenting.

Namun, karena ibu juga bekerja sebagai guru, ia harus meninggalkan anaknya di rumah ketika sedang mengajar. Ia meletakkan anaknya di kamar bersama Gadget yang tak pernah mati, selalu memutarkan video online untuk anaknya agar sang anak tenang, diam dan mau ditinggal sendiri di kamar.

Demikian juga ketika ibunya pulang. Setibanya di rumah, ibu menggendong anak dan memberikan makanan. Ketika ibu beristirahat, ia membiarkan anaknya kembali menonton video di Gadget. Ibu melakukan hal itu sejak usia anak 6 bulan hingga usia anak saat ini yaitu 1 tahun 8 bulan.

Saya bertanya, “Apakah Ibu tidak pernah menstimulasi anak untuk berbicara ketika di rumah?”

Dijawabnya, “Tidak pernah mas” Ibu mengira jika anaknya wajar belum dapat bicara sehingga ia merasa tidak perlu menstimulasinya.

Saya bertanya lagi, bagaimana dengan berjalan, apakah dia merangkak? jawabannya semakin membuat saya tercengang.

“Dia tidak merangkak, ia berjalan di usia 1 tahun 5 bulan.”

“Tidak pernah diajak merangkak atau diajak jalan sebelumnya. Distimulasi?”

Saya tidak berani mas. Kalau memang belum waktunya, biarkan saja. Saya sangat sayang pada anak saya mas. Dia, anak yang saya tunggu-tunggu. Saya tidak mau memaksakan sesuatu pada dia. Saya takut paksaan saya nantinya membuat dia sakit, terluka atau menderita. Saya hanya ingin dia bahagia.”

“Menstimulasi bu. Bukan menyiksa maksud saya.”

“Iya mas. Buat saya, kalau belum mau jalan ya sudah, belum mau merangkak ya sudah, belum mau bicara ya sudah. Dia senang menonton video di Handphone saja, jadi saya lakukan yang buat dia senang.

Dialog ini berlanjut.

“Lantas bagaimana dengan  interaksi bersama tetangga, atau sekadar mengajaknya ke sekolah? Bertemu dengan orang lain?”

Tidak mas, jangan. Mas tahu saya tinggal dikampung, tidak seperti di kota. Saya ikut kegiatan parenting beberapa kali mas, katanya pergaulan itu harus berhati-hati, kuman, virus, bakteri. Kita kan tidak tahu bagaimana anaknya orang mas. Apalagi kalau nanti anak saya dimarahi, dibully sama anak-anak atau orangtua lain.”

“Kalau begitu, anak ibu hanya diam di rumah?”

“Iya, makanya saya siapkan paket data on terus, supaya dia di rumah saja. Dia tenang mas, tidak marah, tidak menangis, tidak mengamuk kalau sudah pegang Handphone.”

Oke, gambaran permasalahannya semakin jelas. Anak tampak terganggu interaksi sosialnya karena tidak pernah distimulasi dalam interaksi sosialnya. Anak mengalami keterlambatan bicara dan berjalan juga karena hal yang sama, tidak adanya stimulasi.

Saya bertanya lagi pada ibunya. “Apakah ibu tahu bahaya gadget?”

“Tahu mas, bahaya sekali. Banyak artikel yang saya baca, kalau gadget itu bahaya bagi anak kecil, menghambat tumbuh kembang anak.”

“Lalu mengapa Ibu melakukannya?”

Ekspresi wajahnya berubah tegang. Gagap dalam bicara dan terdiam, air matanya jatuh begitu saja.

Suaminya kemudian mengambil alih. “Iya Di, masalahnya, istriku ini ketakutan sekali. Kami biasa cekcok karena pengasuhan anak. Ia tahu banyak tentang parenting, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan”

“Saya bukannya tidak bisa melakukan apa-apa” istri marah kepada suami. “Saya hanya takut terjadi apa-apa pada anakku. Saya sayang sama dia, saya tidak mau terjadi sesuatu dengan dia di luar sana karena bergaul sama orang lain. Kamu enak kerja jauh, kamu tidak pernah tahu rasanya jaga anak. Saya menjaga anak agar dia tidak sakit, tidak celaka. Kamu tahu bullying, bahaya kalau anak kita dari kecil sudah mengalami itu. Saya tidak mau anakku digendong-gendong kayak anak tetangga itu, kalau mereka penyakitan, kotor, belum lagi kata-katanya kasar. Saya tidak mau anakku dimarahi atau dengar kata-kata orang.”

“Iya, tapi sekarang anak kita jadi kecanduan gadget, sama saja, terganggu juga anak kita sekarang….”

Dan hening sejenak. Saya melihat cinta kasih di sana, tetapi cinta kasih yang penuh kecemasan. Ya anak ini ibarat anak emas. Anak yang ditunggu selama 4 tahun pernikahan mereka. Berkali-kali istri hamil, berkali-kali juga mengalami keguguran, hingga akhirnya ia mendapatkan anak ini, dan kehidupannya dipenuhi antara kebahagiaan sekaligus kecemasan.

Saya mulai memetakan masalahnya. Jika pun anaknya mendapatkan terapi untuk tumbuh kembangnya, perkembangan anak kemungkinan besar akan tetap terhambat, mengapa?

Masalah bukan pada anak, tetapi pada ibunya. Oleh karena itu, saya memutuskan melakukan konseling mendalam kepada ibunya.

Dari proses itu, dengan segala emosi dan tumpah ruah air mata, saya menyadari bahwa dalam pengasuhan ini, sang ibu membawa kecemasan akibat luka batin yang luar biasa. Luka yang tak pernah ia kenali, luka yang tak pernah ia pahami dan luka yang tak pernah ia sadari. 

Ia mengalami kecemasan sejak kecil akibat perlakuan keluarganya. Ketika dewasa ia mengalami kecemasan tentang berumah tangga dan memiliki anak. Keguguran adalah rangkaian pemicu kecemasan kronis dalam hidupnya. Setelah ia dapat mempertahankan kehamilan, ia bertindak menjaga kehamilan bukan atas dasar kasih sayang semata, tetapi rasa cemas yang tak ia sadari. Kecemasannya seputar “kehilangan”. Rasa kehilangan akibat luka di Masa Kecil yang tidak disadari hingga saat ini.

Kecemasan itu berwujud over protektif dan over thinking terhadap sesuatu hal. Semakin ia tahu, semakin ia cemas, semakin ia menambah ilmu parenting, semakin ia cemas menerapkan parenting kepada anaknya, semakin ia bersemangat semakin ia merasa ketakutan.

Setelah melahirkan, ia sempat mengalami keresahan terhadap anaknya. Depresi dan merasa tidak pantas menjadi ibu. Ia bahkan tidak bisa menyusui. ASI yang keluar sangat sedikit sehingga tidak mencukupi kebutuhan anak. Anak pun selalu menolak ketika dilatih untuk mengisap puting ibunya. Oleh karena itu, ia membiarkan saja anaknya minum susu formula.

Pada masa-masa itu, posisinya menjadi sangat membingungkan. Ia pernah begitu menggebu-gebu ingin memiliki anak, tetapi setelah memilikinya, ia justru merasa sangat terganggu dan tidak pantas. 

Mengapa hal ini terjadi? Sekali lagi, karena kecemasannya akan kehilangan sesuatu. Ia takut gagal melakukan apa yang sudah ia ketahui, ia takut gagal membesarkan anaknya. Ia takut terjadi sesuatu kepada Anaknya. Ia takut akibat dari kegagalan itu membuatnya kehilangan Anak yang merupakan sumber cintanya. Dan saat itu, kehilangannya berwujud pada kecemasan menjadi orangtua. Maka ketika orang lain bahagia memiliki Anak, ia justru berkutat dengan kecemasannya menjadi Ibu.

Usahanya untuk lepas dari perasaan itu berhasil. Pelan-pelan Ia mulai bisa menyayangi anaknya. Perasaan kecemasan menjadi Ibu berubah menjadi Perasaan Menjadi yang Harus over protektif terhadap anak demi mengkompensasi Kecemasannya. Itulah mengapa ketika anaknya belum bisa bicara, bukannya menstimulasi, ia membiarkannya. Sederhana, ia takut terjadi sesuatu kepada anaknya, ia takut anaknya tidak nyaman, ia takut anaknya tersakiti, ia takut anaknya merasa dipaksa. Padahal itu semua adalah wujud kecemasannya sendiri jika ia menjadi orangtua yang gagal dan tidak mampu membuat anak Bahagia.

Hal itu juga menjadi dasar mengapa ia tidak menstimulasi anaknya untuk berjalan. Ia khawatir jika anaknya terjatuh dan kesakitan. Jika anaknya terjatuh dan kesakitan, siapa yang akan paling merasa tidak nyaman? Pastilah ibunya. Ibu takut anaknya tersakiti, Padahal ia bukan takut anaknya tersakiti, ia yang Takut jika ia yang tersakiti karena anaknya sakit. Ia takut menjadi Gagal ketika melihat anaknya tidak Bahagia. Maka, ia membiarkan anak tetap berada pada kondisi Bahagia, agar tetap merasa aman sebagai Ibu yang Berhasil Membuat Anak Bahagia.

Dia pun menjaga anaknya secara berlebihan dari berbagai interaksi sosial. Interaksi Sosial yang dianggapnya membahayakan tumbuh kembang anak karena over thinking terhadap sesuatu yang ia ketahui. Sekali lagi, daripada membahayakan Anak yang berujung pada perasaan Gagalnya sebagai Ibu, dia memilih membiarkan anak dalam Kondisi Bahagia meski itu berarti menjauhkannya dari interaksi sosial sehingga Ibu tetap merasa Aman telah menjadi Ibu yang Mampu Membahagiakan Anak.

Ibu sangat takut menghadapi kegagalannya sendiri. Ibu sangat takut menghadapi kesakitannya sendiri. Kegagalan dan kesakitan yang muncul dari pengalaman interaksi anak. Jadi dengan alasan melindungi anaknya, ia menjadi over protektif. Padahal, IA SESUNGGUHNYA TIDAK SEDANG MELINDUNGI ANAKNYA, IA SEDANG MELINDUNGI DIRINYA SENDIRI DARI KECEMASAN JIWANYA AKIBAT LUKA/TRAUMA YANG ADA SEJAK MASA LALUNYA.

Lihat lah, Ibu boleh saja punya ilmu banyak tentang Pengasuhan, sama halnya seperti saya yang banyak belajar tentang ilmu perilaku mansia. Tetapi saya sadar dan sangat paham, hanya tahu saja tentang Ilmu tanpa tahu dan memahami apa yang terjadi pada diri sendiri, dapat menjadi bumerang. Karena menurut hemat saya, pengetahuan terdalam adalah pengetahuan tentang Diri. jadi mari perbanyak merefleksikan diri, merefleksikan hidup, perbanyak berproses dengan Diri, terutama berdamai dengan masa lalu…

“Ketika kau tidak bisa berdamai dengan masa lalumu, jalur hidumu akan terus diikuti dengan kegagalan dan kelukaan di masa lalu itu. Terutama, ketika kau tak pernah mengenali dirimu, memahami dan paling penting, menyadarinya.”

Jadi, tampak seolah-olah bahwa ibu tidak mencintai anaknya dengan melakukan semua itu. Tetapi bagi saya, ibu bukan tidak mencintai anaknya, IBU TIDAK MENCINTA DIRINYA SENDIRI. 

 

 “DAN SIAPA YANG TIDAK MENCINTAI DIRINYA SENDIRI, TIDAK MUNGKIN DAPAT MEMBERIKAN CINTA KEPADA ORANG LAIN. IBARAT MEMBERI SEPOTONG KUE. JIKA KAU SENDIRI TAK MEMILIKI KUE, BAGAIMANA KAU BISA MEMBERIKAN SEPOTONG KUE KEPADA ORANG LAIN. JIKA KAU TAK MEMILIKI CINTA KEPADA DIRIMU SENDIRI BAGAIMANA KAU BISA MEMBERIKAN CINTA KEPADA ORANG LAIN.

 

Ketakutan yang di alami Ibu adalah ekspresi jiwa yang kehausan, kesakitan. jiwa yang telah lama ditinggalkan tanpa cinta. jiwa yang tak pernah dipeluk oleh diri sendiri.

Sang ibu berusaha memeluk erat anaknya agar tak terjatuh. Tetapi ia tidak sadar bahwa “Ia tidak tahu caranya memeluk” Ia memaksa anaknya berada dalam pelukannya TERUS-MENERUS demi menghangatkan jiwanya SENDIRI.

 

Pesan sederhana dari tulisan ini,

Janganlah mengambil peran yang besar terhadap perkembangan anak-anak kita, mereka sudah memiliki jalannya masing-masing. Kita berperan sepantasnya dan dalam koridor mendampinginya

 

“Perbanyaklah tahu tentang ilmu Parenting. Ilmu tentang mengasuh Anak. TETAPI TERAPKAN TERLEBIH DAHULU pada Dirimu Sendiri YAITU MENGASUH SI ANAK KECIL DI DALAM DIRI – SI INNER CHILD

 

Selamat memeluk anak kecil dalam diri. ia membutuhkan pelukan hangat  anda, pelukan penuh cinta kasih.

Selamat mengetahui tentang diri. selamat mengetahui tentang Tuhanmu.

With love…

Putu kecil yang dulu selalu sepi dan sendiri.

(I Putu Ardika Yana)…

 

 

Mencintai Mereka yang Hidup Tanpa Cinta : Depresi dan Bunuh Diri

Baru-baru ini, lagi, kasus bunuh diri tergaungkan dengan dahsyat di seluruh dunia. Orang besar dengan capaian karir yang luar biasa, mengakhiri kehidupan di tangannya sendiri.

Coba kita jujur pada diri sendiri.

Apa yang pertama terlintas ketika mendengar cerita tentang orang yang bunuh diri.

Tanggapan yang banyak terdengar adalah komentar-komentar negatif.

Penghakiman pada si pelaku, penghakiman atas perbuatannya, penghakiman atas sikap dan perilaku, bahkan sampai penghakiman atas kualitas agamanya, kualitas imannya.

Tiba-tiba saja ramai kalimat-kalimat negatif

“Berdosa sekali orang itu!”

“Pasti ilmu agamanya kurang”

“Bunuh diri kan dosa”

“Kasian ya padahal dia sudah memiliki banyak hal”

“Kasian ya dia, gak tahu bersyukur kayaknya”

“Cepat sekali menyerah”

dan serangkaian kalimat lainnya yang berusaha untuk mengasihani sekaligus mencibir perilaku itu.

Jika hanya demikian yang mampu kita lakukan, kita tidak akan mampu mencegah perilaku bunuh diri. yang terjadi, kita akan semakin menambah jumlah-jumlah pelaku bunuh diri. Mengapa? Karena kita turut serta mem-publish penghakiman terhadap orang-orang yang mungkin dalam tahap jatuh dan berkeinginan bunuh diri. Mengapa demikian? Mari kita lihat pelan-pelan.

Bunuh diri adalah bentuk perilaku dari gangguan Depresi Berat. Gangguan ketika dunia terlihat sangat kelam, yang membuat individu kehilangan harapan, tujuan dan kekuatan untuk tetap bertahan hidup. Baginya, dunia sudah sedemikian “jahat” kepadanya sehingga Ia merasa kehilangan kesempatan bertumbuh dengan baik di dunia. Gangguan ini sayangnya bukan hanya sekadar keyakinan begitu saja, gangguan ini dapat menjadi keyakinan mendalam atau “Waham”.

“Saya teringat bagaimana perjuangan saya sendiri menghadapi masa depresi dengan keinginan bunuh diri yang sangat kuat. Waktu itu semua terjadi begitu saja. 2016 adalah pencapaian karir gemilang saya, keuangan dan materi. Hingga akhinya di pertengahan tahun sekitar bulan Juli, ketika saya bertengkar kecil dengan saudara sepupu saya, ‘kejatuhan’ itu tiba-tiba terjadi begitu saja. Pertengkaran itu sangat sepele, bahkan teman-teman saya bisa menertawakan saya jika mendengar cerita itu , tetapi entah mengapa dampaknya begitu dalam di kehidupan saya”.

Akhir bulan Agustus merupakan awal mula penderitaan saya. Awalnya, saya belum paham jika penderitaan ini adalah depresi. Saat itu, saya mengalami kesulitan tidur dan ketegangan terus-menerus. Ada waktu di mana, malam adalah masa yang menakutkan dan melelahkan. Terkadang gejala fisik yang muncul membuat saya kehilangan seluruh energi hidup saya.

Memasuki bulan September, keadaan semakin runyam. Hidup mulai terasa membosankan, pencapaian serasa tak bermakna, keuangan pun serasa tak berguna. Emosi saya menjadi sangat labil, mudah marah, mudah tersinggung dan merasa kecil hati. Ada apa dengan diri saya? Saya mulai yakin kalau ada yang tidak beres dengan diri saya, jiwa saya dan kehidupan saya. Saya mulai menyadari kalau saya mengalami Depresi.

Gangguan itu sempat meredup ketika pada akhir september mobil impian saya berhasil terbeli. Hari pertama memilikinya, hidup saya mulai terasa bermakna, terasa memiliki motivasi, mudah tersenyum dan terlihat bahagia. Hari kedua perasaan itu mulai berkurang dan di hari ketiga, serasa semua itu tak berguna lagi. Tiba-tiba saya melihat mobil bukan suatu pencapaian. bukan suatu hal yang membanggakan. Sementara di lain pihak, saya semakin banyak mendengarkan bagaimana orang-orang memuji keberhasilan saya. Namun, saya sendiri tak bisa merasakan keberhasilan itu.

Ada begitu banyak gejolak yang tiba-tiba hadir di bulan itu. Gejolak emosi dan ketakutan akan kesendirian, kehilangan, kegagalan, yang saya tidak mengerti mengapa muncul namun sangat menganggu.

Saya sering menangis tanpa sebab di malam hari. Rasa kantuk yang luar biasa tidak pernah terpenuhi lagi. Setiap saya memejamkan mata, perasaan yang hadir adalah kesendirian, kesedihan dan ketakutan. Rasa itu ibarat vacum cleaner yang menyerap seluruh jiwa saya ke dalam ruang kegelapan hingga tiba-tiba saya kesulitan bernafas dan menangis sejadi-jadinya. Pada titik itu, hanya kematianlah rasanya obat yang berharga.

Tak ada teman, tak ada sahabat, tak ada siapapun yang tahu apa yang terjadi dengan saya. Ketika waktunya beraktivitas di pagi hari, saya berusaha beratus-ratus persen untuk tampak baik-baik saja. Ketika saya harus profesional di kantor bekerja sebagai konselor, saya harus memaksa diri untuk mendengarkan dan memahami orang lain, dan pada titik tertentu, setelah melayani pasien, saya akan jatuh dan menangis sejadi-jadinya. Semua itu saya pendam seorang diri. saya tidak mau diketahui oleh siapapun. Orang-orang di luar masih melihat saya hebat, kuat dan pekerja keras. Mereka masih bisa melihat tawa yang saya hadirkan untuk menutupi rasa sedih saya. Setiap siang saya tampak baik-baik saja, tetapi setiap sore hingga subuh saya sangat menderita.

Oktober adalah bulan terberat berikutnya. Gangguan itu semakin menjadi. Ketakutan untuk tidur sendiri semakin parah. Saya takut kesendirian, saya takut ketika semua orang pergi dari sisi saya. Dada saya bergemuruh ketakutan, nafas saya sesak seperti ditekan beban yang sangat berat. Asam lambung saya meningkat yang membuat tenggorokan saya sakit seperti terbakar. Saya mulai sadar bahwa depresi saya semakin berat dan saya mesti mencari cara mengatasinya.

Pada titik itu, saya memutuskan mencari Tuhan dan bersandar di pangkuanNya. Keputusan itu ditandai dengan saya tinggal setiap malam di tempat ibadah bersama seorang sahabat baru yang bernama Angga.

Meskipun saya memiliki Angga sebagai sahabat, saya masih enggan bercerita dan diam seribu bahasa. Saya tidak mau dia mengetahui kalau saya sedang terganggu dan memiliki masalah berat. Bukan hanya Angga, kepada semua sahabat pun demikian. Saya tidak ingin mereka tahu, karena saya takut mereka akan pergi dan meninggalkan saya begitu saja. Ada titik dimana saya berharap mereka yang memahami lebih dulu kondisi penderitaan saya. Begitu labilnya emosi saya.

Kehadiran Angga sebagai sahabat dan rumah ibadah itu mampu membuat saya sedikit lega. Setiap jam 8 pagi sampai dengan jam 4 sore, saya beraktivitas di kantor, berusaha profesional meskipun perasaan saya sebenarnya naik turun antara sedih dan memaksa kuat. Jam 4 sore adalah pertanda kiamat bagi saya karena saya akan sendiri dan berpisah dari manusia-manusia di sekeliling saya.

Saya harus segera ke rumah ibadah untuk sembahyang dan menangis sepuas-puasnya di hadapan Tuhan. Ketika malam hari, Angga hadir untuk menemani. Sekedar bercerita atau bertukar kisah satu sama lainnya.

Saat waktunya tidur, ketakutan dan kesepian itu merajalela. Saya menangis lagi, marah lagi, sesak nafas, sakit perut, dan kelelahan. Angga yang tidur di samping saya menjadi tempat menangis hingga tertidur pulas.

Pada saat itu, saya jadi begitu membenci suara Adzan Subuh (bukan membenci Adzan itu sendiri) yang membangunkan tidur saya. Kondisi jiwa yang labil dan sensitif membuat saya emosi dengan suara itu. Bagaimana tidak, memulai tidur saja saya sulit, lalu saat sudah tidur, suara Adzan tiba-tiba membangunkan saya. Sementara saya terbangun, tak ada satu pun manusia lain yang terbangun di kamar itu termasuk Angga.

Yang terjadi kemudian adalah, air mata terus mengalir, ketakutan dan ketakutan, kesedihan mendalam hingga perasaan tak berguna. Di setiap subuh itu, dunia bagi saya adalah hitam, kelam, dan penuh dengan kesedihan, dunia menjauh dari saya, saya dibuang dalam kesendirian. Saya merasa Tuhan kejam.

Mengapa orang-orang lain seperti pasien pecandu saya masih mendapatkan teman untuk membantu mereka, untuk mendengarkan mereka, sementara saya menghadapi semua ini sendiri. Tak ada orang ataupun teman yang memahami kondisi saya, mengapa mereka bisa jadi sangat bodoh hingga mudah tertipu oleh tampilan luar saya.

Saya membenci semua teman-teman saya, sahabat-sahabat saya, saya meyakini bahwa saya memang diciptakan sendiri dan tak ada yang peduli dengan saya. Itulah isi pikiran saya setiap subuh yang membuat air mata terus mengalir. Pada saat itu, yang saya butuhkan adalah : bahu untuk bersandar, pelukan untuk menghangatkan serta meyakinkan saya bahwa semua baik-baik saja. Tetapi saya tak mendapatkannya dari siapa pun pada saat itu.

Di akhir Oktober, saya sudah tidak sanggup lagi dengan semua gangguan ini. Saya memutuskan untuk menceritakan semua hal tentang masalah saya kepada Angga, dan dua sahabat saya, Erik dan Yuni. Setelah saya menceritakan semuanya, mereka sangat terkejut. Ada kelegaan tersendiri ketika dapat menceritakan kepada mereka. Padahal bercerita bukan hal yang mudah, teman. Saya harus mengumpulkan keberanian dan keyakinan di tengah fase depresi bahwa mereka tidak akan meninggalkan saya.

Suatu hari saat gangguan semakin parah, saya menjadi sangat sensitif. Saya ingat ketika itu, Angga mengatakan kalimat “Lihat nanti ya, Kak.” Ketika saya memintanya untuk menemani tidur lagi. Saat itu, saya merasa bahwa Angga jahat dan berniat meninggalkan saya setelah dia tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Sambil menyetir mobil, air mata mengalir deras di pipi saya. Tiba-tiba dunia sangat hitam, yang ada hanya kalimat-kalimat “Kamu sendiri, kamu tak berguna, kamu mati saja” dan Yaaa kata terakhir itu menjadi tujuan akhir saya. Saya melihat truk di depan mobil saya dan saya memutuskan menginjak gas dalam-dalam. Di detik-detik saya akan mengakhiri hidup saya, HP saya berbunyi, Erik tiba-tiba menelfon dan menganggu rencana itu. Dia seperti paham sesuatu terjadi dengan saya, dia hanya mengatakan agar saya segera ke rumahnya detik itu juga, dengan kalimat paksaan yang harus saya penuhi.

Setiba di rumah Erik, saya menumpahkan semua tangisan saya. Menceritakan semua ketakutan, kemarahan, kesedihan, kejengkelan, dan rasa putus asa saya. Tahu kah teman-teman apa yang Erik lakukan, dia hanya diam mendengarkan saya sambil sesekali mengatakan “Iya Tu, kamu tahu dari mana, oh begitu, kau ini sedih sekali ya” Dan saya terus bercerita tentang kesedihan saya. Saya mendengar dia berkata “Kau tenang saja, saya selalu ada buat kau, apa pun yang kau mau, saya bakalan bantu kau, kau mau tinggal di rumah ini, silahkan!”

Dan kalimat itu adalah multivitamin yang berharga untuk saya. Tiba-tiba perasaan saya dipenuhi dengan rasa damai dan keyakinan bahwa saya tidak sendiri. Erik membuat saya tertidur dengan tenang dan mimpi yang indah.

Erik dan Yuni kemudian mengajak saya untuk menikmati pantai yang indah. Di sana keduanya hadir bukan untuk mencerahami saya, memarahi saya, menegur saya, apalagi menertawakan kebodohan saya. Mereka pun tidak menghakimi derita saya, apalagi menghinanya. Mereka hanya mendengarkan, mereka hanya hadir, hanya memberikan kehangatan melalui senyuman dan tawa yang tulus. Mereka membiarkan saya tidur di pasir pantai yang dingin, menemani saya melewati masa-masa ini. Perlahan tapi pasti, gejala gangguan depresi itu mulai mereda, kehadiran mereka seperti memastikan bahwa di tengah dunia yang gelap, masih ada orang-orang yang mencintai saya.

Angga juga demikian, tak pernah ada semalam pun tanpa dia menemani saya untuk tidur. Entah apa yang dia pikirkan, tetapi dia selalu ada di saat saya akan memejamkan mata. Dia juga selalu ada saat saya terbangun. Dia tidak melakukan apa-apa untuk membantu saya melewati masalah ini selain hanya di samping saya, menemani saya tidur.

Saya juga merasakan kehadiran Tuhan dalam energi yang tiba-tiba hadir dalam masa-masa jatuh dan keinginan untuk bunuh diri. Ada masa ketika saya merasa Tuhan hadir memeluk saya, meski dalam beberapa masa yang lain, saya juga merasa justru Tuhan yang meninggalkan saya.

Tetapi satu yang pasti, keinginan untuk mengakhiri hidup saya adalah tetap obat yang selalu saya ingin lakukan. Terutama saat malam. Puncak di hari selasa di minggu akhir oktober itu. entah mengapa, seluruh fisik saya sakit, gemetaran, saya kehilangan nafsu makan, emosi saya meledak-ledak, tetapi tidak mampu diekspresikan, kemarahan membesar yang membuat saya sangat sedih, ketakutan yang membuat saya bahkan tak mampu berdiri lagi. Saat itulah, Eriek hadir lagi dan mengajak saya untuk ke psikiater

“Put, saya tahu kau psikolog hebat, tapi kau butuh orang lain, kita ke psikiater besok. Besok malam, saya antar ke sana”

Ya dan esoknya saya ke psikiater. dokter memberi saya obat anti depresan, yang membuat saya tenang dan mengendalikan emosi saya. Saya meminum obat itu hingga 4 hari setelahnya. Hingga tepat hari kelima, saya dilarikan ke rumah sakit karena SGOT dan SGPT yang naik berkali-kali lipat dan divonis hepatitis B akut.

Dokter merawat saya dengan intensif. Dua hari perawatan, kondisi saya semakin drop dan yang terpikirkan waktu itu hanya satu orang yaitu, sahabat saya di Jogja yang bernama Wayan.

Bapak saya pun menerbangkan dia dari Jogja ke Palu untuk menjenguk saya. Sesaat sebelum dia datang, nilai SGOT dan SGPT saya sampai 690 dan 696. Malamnya ketika Wayan datang, saya memintanya untuk memeluk saya. Dia hanya hadir dalam sebuah pelukan, lalu mengatakan semua baik-baik saja.

Keesokan harinya, nilai SGOT saya turun hingga 140, SGPT saya turun 500. Dokter kemudian merujuk saya ke Jogja untuk mendapatkan perawatan medis intensif dan perawatan psikologis bersama sahabat-sahabat saya.

Ya, sahabat-sahabat saya menerima saya apa adanya. Mereka tahu saya Psikolog Klinis yang mestinya paham bagaimana menerapi dan mengatasi masalah Depresi. Mereka tahu karir saya sedang baik-baiknya, pencapaian saya sedang tinggi-tingginya. Mereka tahu kemampuan saya, tetapi, saya bersyukur mereka tahu bahwa saya juga manusia yang sedang belajar.

Di lain pihak, banyak yang bertemu dan melihat kondisi saya mengajukan berbagai pertanyaan klasik

“Apa sih yang kurang dari kamu?”

“Apa yang membuat kamu stres? Kan semua sudah ada?”

“Jangan terlalu banyak mikir! Emang mikir apa sih?”

“Kamu loh udah berhasil? Apa lagi yang kau cari?”

Bisa terbayang bagaimana saya harus menjawab pertanyaan itu, sedangkan saya sendiri kurang memahami bagaimana gangguan ini terjadi dan apa yang sebenarnya terjadi dengan hidup saya.

Saya saja yang berprofesi sebagai Psikolog-yang sedikit banyak sadar tentang gangguan ini-mendengar pertanyaan itu terasa sangat menyesakkan dan merasa bahwa dunia ini penuh dengan orang-orang yang tidak punya perasaan, lantas bagaimana orang awam yang tidak paham dengan gangguan ini?

Saya membayangkan mereka mungkin mengalami kesedihan dan tekanan yang sangat dalam. Jika ide bunuh diri datang, maka segera dapat dieksekusi. Pun jika harus kuat, orang-orang itu hanya akan berpura-pura kuat dengan lari dari masalahnya.

Beruntung, Angga, Wayan, Erik, dan Yuni, hadir bukan sebagai sosok penanya. Mereka hadir sebagai sosok sahabat yang mendekap saya. Ketika saya terjatuh, mereka tidak banyak bertanya mengapa saya jatuh, mereka juga tidak memaksa saya untuk bangun dengan cepat. Mereka hadir menemani dan memahami saya, tanpa banyak bicara, tanpa banyak penghakiman. Ya HANYA HADIR, yang selalu meyakinkan saya bahwa mereka selalu ada. Untuk saya.

Kehadiran mereka, membuat saya kuat melewati masa depresi itu. Perlahan, saya mengikuti berbagai pengobatan hingga akhirnya saya dapat kembali berfungsi optimal.

Ada beberapa hal yang dapat saya pelajari dari kejadian ini.

Pertama : Saya semakin belajar ke dalam, untuk menemukan hal-hal / konflik / luka / traumatis apa yang masih terdapat dalam diri saya sehingga gangguan depresi ini harus saya derita.

Kedua : Saya belajar menikmati rasa sebagai seorang yang depresi. Dengan demikian, saya dapat membangun perasaan empati dan kepedulian besar terhadap gangguan ini.

Mengapa Saya menceritakan kisah saya ini, agar siapa pun yang membaca mampu memahami isi dari pikiran, perasaan dan perbuatan dari orang dengan gangguan depresi berat.

Saya menyadari bahwa gangguan ini dapat terjadi pada siapa saja dan di mana saja. Celakanya, banyak yang baru mengetahui atau menyadari kalau dirinya terganggu setelah berbagai penyakit muncul atau hingga bunuh diri. Perilaku bunuh diri itu sendiri kemudian dicaci dan dimaki sebagai perbuatan yang paling berdosa.

Coba tengok sejenak, berapa banyak lagi informasi di media yang memberitakan semakin banyaknya orang bunuh diri, dan coba juga lihat hanya beberapa orang saja yang berkomentar secara bijak. Bahkan lebih parah lagi, ada redaksi-redaksi yang justru menyiratkan bahwa seseorang yang bunuh diri itu memang lemah dan tidak menghargai hidupnya (di pojokan).

Jika redaksi seperti itu dilihat dan dibaca oleh orang-orang yang sedang depresi, sangat mungkin mereka akan meniru perilaku yang dituliskan dalam redaksi pemberitannya. Dan akhirnya perilaku itu saling berantai karena menjadi tren pemberitaan.

Oleh karena itu, melalui tulisan ini, saya mencoba mengajak pembaca bukan untuk memaklumi perilaku bunuh dirinya, tetapi untuk memahami bahwa Bunuh Diri itu adalah keputusan dalam gelapnya dunia yang justru semakin diperparah oleh tak adanya orang-orang sekitar yang hadir dan ada untuk mereka.

Mari Mengenali Depresi. Mari Memahami Depresi, Mari MEMBANTU mereka yang Depresi. Sederhana, cukup HADIR DENGAN TULUS saja kepada orang tersebut, tanpa harus menghakimi atau mengata-ngatainya. Jika gangguannya semakin membahayakan, bantu dia menemukan profesional helper yang dapat menolongnya dengan benar.

Mari kita membuat redaksi pada kejadian-kejadian Bunuh Diri bukan dengan menceritakan dan memojokkan masalah mereka. Mari kita menmbuat redaksi pada kejadian-kejadian bunuh diri dengan penuh empati dan meyakinkan pada penderita depresi lainnya agar segera mencari pertolongan kepada sahabat, orang terdekat dan profesional helper.

Mari kita belajar memahami bahwa depresi bukan serta merta gangguan karena orangnya tidak beragama / imannya tidak kuat. Kita tidak pernah tahu, bagaimana ia selalu menyebutkan nama Tuhan atau sangat dekat dengan Tuhan dalam melewati masa depresi itu. Kita juga tidak pernah bisa mengukur bahwa depresi terjadi karena ia kurang ikhlas atau berserah pada Tuhan. Ya semua kemungkinan itu ada, tetapi kita harus paham bahwa depresi adalah gangguan yang melibatkan BIOPSIKOSOSIAL SPIRITUAL. Jadi gangguan itu bisa terjadi karena permasalahan biologis dalam tubuh, permasalahan psikologis, permasalahan sosial-ekonomi, dan permasalahan spiritual, interaksi diantara itu, atau interaksi keempatnya.

Sekali lagi, mari memahami depresi hingga Bunuh Diri sebagai permasalahan yang harus kita sikapi dengan Empati, kepedulian untuk membantu dan penghargaan kepada mereka yang telah kehilangan penghargaan itu sendiri. Mari Mencintai Mereka yang Hidup Tanpa Cinta.

Mari MENCIPTAKAN DUNIA YANG INDAH bagi sesama kita. Saling mencintai sesama kita, saling menebar benih kebahagiaan, dan terus menerus mengeksplorasi nilai-nilai kemanusiaan dalam diri kita.

Kapan pun dan di mana pun, anda menemukan orang-orang yang perlu dibantu atau bahkan Anda sendiri silahkan menghubungi :

www.sejenakhening.com di Palu.

Semoga kita semua dapat terbantu dan bertumbuh bersama.

Salam penuh cinta, penuh kedamaian..

Guru Kehidupan

Pada dasarnya, kita semua dapat belajar dari Mana saja. Jika kau percaya bahwa kau Belajar Dari Tuhan, maka percaya lah SETIAP ORANG YANG HADIR DI HIDUPMU ADALAH GURU YANG DIHADIRKAN TUHAN SEBAGAI ALATNYA MENGAJARKANMU TNTG HIDUP, TENTANG KEHIDUPAN!!! Semisal bagaimana menjadi sabar, menjadi ikhlas dan mencintai sesamamu..
.
.
Hal yang sangat diSyukuri adalah, dapat mengenal, dapat bergaul, dapat bersahabat, dengan orang-orang yang Hebat – hebat artinya, tahu potensi dirinya dan mengembangkan dirinya secata optimal –
.
.
.
Mengapa perlu dsyukuri, karena saya dapat kecipratan kehebatannya, kemampuannya, pengetahuannya, dan berbagai pengalamannya.
.
.
Dengan kerendahan Hati, meskipun terlihatnya Rendah, tetapi itulah Belajar. Karena Belajar dapat dari mana saja dan siapa saja.
.
.
Jadi sayang sekali, kalau kau punya teman hebat, tapi kau kau enggan belajar darinya hanya karena egomu…

Turbulensi Pesawat Terbang

Entah lah apa yang terjadi,

banyak dari kita yang hanya menginginkan kebahagiaan, tertawa ngakak sana-sini, atau berlarian melepas Dahaga…

seperti kata Freud, tujuan tertinggi manusia adalah tercapainya Kebahagiaan…

Dari tujuan ini, kita kemudian banyak menghindari rasa derita, rasa sakit dan kekecewaan, bahkan diantaranya berusaha lari dan menutupi Diri.

Penderitaan memang sepantasnya membuat kita banyak-banyak merenung, banyak-banyak berpikir, dan banyak-banyak merasa. hal ini perlu, karena tiada sebenarnya Derita kecuali karena cara kita bersikap.

Suatu hari, ada yang mundur tersakit di tengah-tengah penderitaannya. menyatakan sikap bahwa semua jalan perubahan ini untuk menghadapi penderitaan adalah tiada nilainya. semuanya hanya membawanya pada kenyataan hidup terpahit, bahwa dia tak hanya kelelahan menguras energi kehidupannya.

hmmm… tampaknya dan rasanya memang demikian…

tetapi, jika kau melihat lebih dalam, ke dalam dirimu sendiri, tidak kah kau melihat bahwa Kau masih tetap Bertahan dan Berdiri Tegak menghadapi penderitaanmu, apakah itu artinya kau tak mampu melaluinya?…

JIka kau lelah, dan kau bersiap untuk putus Asa,

Tengoklah ke dalam dirimu, Bagaimana kau telah bertahan dan tetap berdiri.

Kelelahan dan kemarahan adalah kewajaran yang tumbuh dan muncul dalam guncangan-guncangan kehidupan.

Kau tengok pesawat terbang,

Pilotnya tahu bahwa ia akan berhadapan dengan angin kencang, mungkin badai, dan awan-awan gelap,

Tetapi apakah Pilotnya memutuskan untuk mundur dan berhenti dari penerbangannya?

Tengoklah kapal-kapal di lautan, ia tahu bahwa ia akan berhadapan dengan ombak-ombak tinggi dan arus lautan yang deras,

Tetapi apakah kaptennya memutuskan untuk mundur dan berhenti melanjutkan perjalanannya?

Jika kau tanyakan itu kepada Pilot dan Nahkoda, mereka akan dengan santai menjawab, bahwa Demikianlah perjalanan yang akan mengantarkan mereka untuk mencapai tujuan, satu-satunya cara mencapai tujuan, bukan lah menghindari mereka, tetapi menghadapi mereka. ketika pada akhirnya semua terasa berat, mereka akan mengingat kembali apa tujuan mereka. Saat tujuan semakin jelas, mereka akan menggunakan berbagai cara yang tepat untuk menghadapi kesulitan-kesulitan di depan.

Jika pun pilihannya Mundur, mereka tak benar-benar mundur, mereka tak mengubah Tujuan, mereka hanya mengundurkan waktu, untuk mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinannya.

Demikianlah hidup, keputusasaan, kemarahan, kelelahan, kemarahan, penolakan, adalah kewajaran yang sepantasnya ada dalam kehidupan. mereka ada senyuman Tuhan yang sama.

Maka, tengoklah ke dalam, tengok dan melihatlah seberapa kuat dan mampunya kau bertahan. karena Tujuanmu sudah dekat, satu kemurnian Jiwa yang semakin terasah melalui penderitaan.

Pesawat tak dapat langsung terbang dengan ketinggian puluhan ribu kaki di atas permukaan laut, ia melalui tahapan-tahapan yang sama sulitnya. senada dengan itu, kemurnian jiwa akan melalui tahapan-tahapan antara kemudahan-kesulitan, antara kebahagiaan-kesedihan, antara penerimaan-penolakan.

Selamat belajar terbang…

Bahu untuk Bersandar dan Telinga untuk Memahami

Hari itu semua berjalan semestinya. semestinya yang direncanakan manusia-manusia. sebelum akhirnya musibah itu terjadi.

tabrakan antara kedua motor itu tak terhindarkan lagi. salah satunya memang memilih untuk berbelok, sementara yang lainnya mencoba peruntungan untuk menyalip. hitung-hitungan detik adalah pertaruhan bagi eksistensi manusia, dan itu lah yang coba pengendara motor itu lakukan.

terjadilah. Duaarrr.. Upaya untuk mencuri satu detik saja agar upaya menyalip itu sukses, ternyata Gagal. hitung-hitungan detiknya tidak tepat, dan sebagai taruhannya, eksistensi manusia penyalip itu pun terhempas, eksistensinya sebagai manusia terlepas.

dia menemui kematiannya seketika. sementara pengendara motor yang ditabrak, harus menyaksikan kematian si penyalip di depan matanya tanpa sanggup berbuat apa-apa karena ketidakberdayaan fisik dan mentalnya.

demikian singkat cerita, salah satu sahabat saya berkisah. Sahabat saya adalah korban yang selamat.

sahabat saya kemudian harus menjalani perawatan di rumah sakit untuk pemulihah cedera fisik yang dialami. dalam proses pemulihan itu, satu persatu sahabat-sahabat lainnya, keluarga-keluarga lainnya, dan orangtua-orangtua lainnya bermunculan.

memberi dukungan kasih, dukungan nasehat dan dukungan doa. sekilas semuanya baik-baik saja, tampak bahwa pemulihan sahabat saya semakin baik, ia tampak ceria, tampak bersemangat dan tetap bersahaja.

hingga rupa-rupanya, ketahuan lah bahwa ada sisi gelap yang ia simpan dalam pengalam ini.

banyak sahabat, banyak saudara, banyak keluarga dari sisi sahabat saya, yang mengungkapkan rasa Syukur bahwa sahabat saya ini masih selamat dan luka-lukanya tidak parah. banyak dari mereka yang mengungkap betapa besar kasih Tuhan kepada sahabat saya karena membiarkan sahabat saya selamat dari kecelakaan maut. banyak dari mereka mengagung-agungkan kebesaran Tuhan yang menyelamatkan sahabat saya, dan banyak dari mereka meminta sahabat saya agar BERSYUKUR kepada Tuhan melalui doa-doa bahwa dia selamat dan hanya terluka kecil. dan banyak-banyak lainnya…

dan entah apa yang terjadi malam itu, tampaknya suara hati dan pengalaman spiritual melalui pembelajaran nilai-nilai kemanusiaan, membuat sahabat saya memberontak.

“kenapa semua orang tidak memahami apa yang saya rasakan. semuanya mengatakan saya harus bersyukur karena Tuhan menyelamatkan saya. Hei, ini bukan pertandingan antara saya dan dia, yang mana yang Hidup adalah pemenangnya, lalu bagaimana dengan dia yang meninggal, apakah itu pertanda dia kalah, dan saya harus bersyukur karena saya menang. ini juga bukan adu kuat-kuatan doa antara saya dan dia, ini bukan adu kuat-kuatan antara Tuhan saya dan Tuhan dia.”

“kenapa Tuhan tidak menyelamatkan kami berdua saja, kenapa Tuhan memilih saya, dia juga punya kepantasan yang sama untuk Hidup. sementara saya dibiarkan Hidup, lalu saya bisa menyombongkan diri mengatakan, syukur bukan saya yang mati, syukur saya masih selamat”

“seolah-olah tidak ada yang paham dengan musibah ini. ini musibah bersama, bukan berarti saya pemenangnya dan kemudian saya bisa mengklaim bahwa Tuhan memilih saya dan saya menang. saya cuma ingin katakan, kalau mau dukung saya, bantu saya, tidak begini. Bagaimana mungkin saya merasa tenang dan mampu bersyukur saat ini, sementara saya belajar nilai-nilai kemanusiaan, saya masih terikat dengan pengalaman menyakitkan melihat dia bersimbah darah dan melepaskan nafasnya di hadapan saya”

“saya tidak sanggup, saya masih berat, ini semua tidak mudah. seandainya saya ini jahat, mungkin saya bisa membanggakan diri tentang penyelamatan ini, yeahh saya berteriak dengan keras kalau saya selamat dan berhasil memenangi pertandingan di jalanan itu. saya masih berat. bantu saya menjalani rasa berat ini tanpa menasehati saya seperti itu”

sahabat saya sedang membiarkan letupan-letupan emosinya terhempaskan


Demikian lah keterikan manusia dengan alam semesta ini. eksistensi manusia diukur oleh kehidupan dan kematian. seolah kematian berarti pertanda bahwa eksistensi telah usai. hanya demikiankan kita???

Ada dua hal yang saya pahami dari kisah sahabat saya itu.

Pertama :

Sahabat saya sedang memasuki fase Stres pasca Kejadian Traumatis. pada umumnya, sahabat, saudara, dan keluarga akan memberikan respon berupa Nasehat kepada orang-orang yang mengalami musibah tertentu dalam hidupnya. akan tetapi tepatkah nasehat itu.

ternyata, dari keadaan sahabat saya, sekali lagi saya belajar, bahwa nasehat itu belum menjadi respon yang tepat. respon nasehat menyiratkan bahwa orang diluar subjek itu sendiri merasa sudah paling tahu dan paling paham apa yang perlu dilakukan ketika berhadapan dengan situasi krisis dalam hidup. respon ini akhirnya mendangkalkan perasaan subjek yang mengalami penderitaan, bukannya merasa dibantu, ditemani, didukung, tetapi dia merasa terintimidasi untuk menjalankan nasehat dari orang lain yang tampaknya paling tahu menghadapi masa kritis ini.

hingga pada akhirnya, subjek yang menderita itu dapat meluapkan marahnya dan semakin tertekan dalam fase Stres pasca Kejadian Traumatis.

melihat apa yang sahabat saya alami, sebenarnya dia paham maksud dari “Syukur” yang orang-orang katakan kepadanya, hanya saja dikarenakan ia masih dalam fase Stres, maka nasehat dan pemahaman akan rasa “Syukur” itu masih terdistorsi. apalagi sahabat saya ini sangat dalam proses spiriualnya.

lantas apa yang sebenarnya ia butuhkan? menurut hemat saya, dia membutuhkan Bahu untuk bersandar, Bahu untuk dia meletakkan beban rasa sesal, ketakutan, dan kemarahannya, Bahu untuk menguatkan dia bahwa dia tidak sendiri.

Bahu!!!

bukan Mulut…

berada di sampingnya, membiarkan dia bersandar, membiarkan dia menangisi musibahnya, membiarkan dia melampiaskan kemarahannya, membiarkan dia meluapkan sesalnya. Walaupun dalam kondisi tabrakan itu, dia yang menjadi korban tabrak, tetapi sebagai sesama manusia yang saling mengasihi, ada rasanya penyesalan, kesedihan, ketakutan, dan berbagai kemarahan.

Telinga!!!

ya, ini juga yang sangat penting. telinga untuk mendengarkan. Sahabat saya mengalami musibah, meskipun yang lainnya mungkin pernah mengalaminya, tetapi percayalah, pengalaman setiap orang berbeda sesuai dengan “bekal” kehidupannya masing-masing. dengan merasa yang paling paham atas apa yang terjadi, tidak membantunya untuk melampaui masalah ini. Oleh karena itu, membiarkan telinga ini mendengarkan adalah cara untuk mencoba Memahami apa yang ia rasakan.

Memahami…

Coba bayangkan bagaimana rasanya dipahami, tentu sangat damai, sangat tenang, sangat nyaman. maka biarkan diri untuk memahami apa yang sedang dirasakan orang lain melalui mendengarkan dengan penuh perhatian. Mendengarkan dengan penuh perhatian akan membantunya merasa dipahami. singkat ceritanya, Sahabat saya ini sedang belajar tentang nilai kemanusiaan, entah dengan alasan apapun, rasanya tentu tak nyaman ketika ia bersyukur tetap Hidup ketika yang lainnya meninggal. bukan kah ia belajar tentang kasih, bukan kah ia belajar tentang mencintai sesama manusia, lalu bagaimana mengajaknya bersyukur di tengah perlombaan antara hidup dan mati. hmmmhh.. Itu lah pentingnya memahami. peran kita adalah Memahami apa yang ia rasakan sebelum kita mengajarkan apa yang harus dia lakukan. saya percaya, pada dasarnya sahabat saya sudah sangat paham tentang makna “Syukur” hanya saja ia sedang terguncang, maka memahami kondisinya adalah membantu ia menyusun pecahan-pecahan puzzle yang berhamburan untuk menjadikannya gambar yang utuh. Maka demikianlah pentingnya Memahami.

 


Dan dari pembelajaran itu, kita tidak datang kepadanya untuk mengambil penderitaannya, kita datang kepadanya untuk menjadi sahabat yang Menemaninya menghadapi penderitaanya. Agar rangkaian peristiwa-peristiwa yang ia alami menjadi pelajaran-pelajaran kehidupan yang menuntunnya menemukan kemurnian dalam hidupnya.

Jika kita datang dengan bersikap untuk mengambil penderitaannya, maka kita tak membiarkannya belajar tentang bagaimana seharusnya ia menghadapi penderitaan. akibatnya, ia bisa kehilangan nilai dari proses penderitaan, ia kehilangan pemaknaan, ia kehilangan kesempatan untuk merenungi dirinya sendiri. ia tak akan bisa belar memaafkan diri sendiri, menghargai diri sendiri, dan akhirnya kehilangan kesempatan untuk memurnikan Jiwanya.

 

 

Diantara doa-doa kita kepada yang Maha pemilik Hidup, berdoalah agar kita selalu bersahabat dengannya, agar ia selalu ada di samping kita, menemani kita, menguatkan kita, memahami kita, dan membimbing kita menjalani peran kita sebagai manusia

 

 

Tangisan yang Menyembuhkan

Seperti malam-malam yang sudah biasa, ada pertanyaan-pertanyaan mengapa kau menyia-nyiakan kehidupanmu. Berapa banyak air mata yang kau hadiahkan untuk orang-orang yang menyayangimu dan berapa bentuk kemarahan yang mewujud dalam kesakitan-kesakitan.

Tetapi semua sudah terjadi bukan.

Kata teman saya seorang ahli Teknik Mesin, “Kecacatan suatu struktur akan terlihat ketika kegagalan sudah mewujud” Oleh karena itu, ketika kecacatan hidup sudah mewujud dalam kehancuran hidupmu maka kehidupanmu sepantasnya direfleksikan…

Dan malam itu, seperti menemukan obat dari kecacatanmu, tangisanmu membahana di seisi ruangan, raunganmu menggema di luasnya bidang.

Dan “menyesal” lah dengan Dalam.. sedalam mungkin, lalu mulai “berubah” ubah hidupmu dari pembelajaran akan penyesalanmu…

Rangkul luka Jiwamu, maafkan kelalaian dirimu Sendiri, berhenti menghakimi masa lalumu..
Kau tahu, selalu ada tempat bersandar yang Maha Pengasih berikan, dan selalu ada ruang untuk Pemaafan… 
.
.
.
.
Selamat berproses bos!!